ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
SANTAI: Para seniman yang bernaung dalam Perahu Art Studio saat diskusi, Jumat (31/11).

Mengikuti Sharing Pengalaman dan Jaringan di Perahu Art Studio di Kasihan, Bantul

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Itu filosofi yang mengakar di kalangan seniman yang bernaung bernaung dalam Perahu Art Studio. Karena pengalaman itu pula, para seniman Perahu Art Studio melanglang buana ke berbagai negara
ZAKKI MUBAROK, Bantul
SUASANA Perahu Art Studio kemarin (31/10) sore tampak ramai. Belasan orang duduk membentuk setengah lingkaran di ruang tengah sebuah rumah kontrakan yang terletak di Pedusunan Lemahdadi, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul tersebut.
Tak ada wajah-wajah serius, meski mereka tengah mengikuti acara sharing pengalaman sejumlah seniman Perahu Art Stu-dio. Bahkan joke-joke segar kerap mewarnai acara yang dikemas dengan bentuk diskusi itu.
“Budal mrono dibayari opo bayar dewe (berangkat ke sana dibayari atau bayar sendiri)?,” celetuk seorang peserta diskusi kepada Andy Ramdani, seorang seniman Perahu Art Studio yang tengah memaparkan pengalamannya mengikuti project art di luar negeri.
Ya, beberapa waktu lalu ada enam seniman yang barnaung dalam Perahu Art Studio mengikuti program project art dan pertukaran seniman ke berbagai negara. Andy Ramdani ke Gongju, Korea Selatan pada 1 Agustus hingga 2 September mengikuti The 6 th Geumgang Nature Art Biennale.Kemudian, Iqro Ahmad Ibrahim, Argus Firmansah, dan Wisnu Aji Putu mengikuti program Tumen River Art Project di China 20 hingga 28 Agustus lalu.
Selanjutnya, 10 September hingga 3 Oktober, Iqro Ahmad Ibrahim, bersama Agustan, dan Muhlis giliran ke Seoul, Korea Selatan dalam rangka mengikuti program Artist in Residency.”Kita diundang. Full yang mendanai dari pihak sana,” ucap Andy Ramdani.
Bagi Ramdani, sapaan akrabnya, banyak pengalaman dan pengetahuan berharga usai mengikuti project art di Gongju, Korea Selatan. Dari pengalamannya di negeri Gingseng itu pula dia mengetahui para seniman luar mengapresiasi hasil karya seni para seniman Indonesia.
Selama satu bulan di Gongju, pemuda kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat ini diminta membuat project art berupa karya seni instalasi dari bahan bambu. “Saya olah sedemikian rupa menjadi bentuk jamur,” urainya.
Dari hasil karya seni ini, tak sedikit seniman luar memuji kelebihan hasil karya Ramdani. Di Tiongkok maupun Korea Se-latan, bambu ketika dijadikan sebagai salah satu bahan karya seni tak banyak diolah. Bahkan dibiarkan utuh. Berbeda dengan di Indonesia.
“Tidak hanya pelaku seni. Orang Indonesia pada umumnya kalau nyisiki (menghaluskan bilahan) bambu kan telaten,” kelakarnya.
Dia mengaku bisa unjuk gigi di level internasional berkat sharing pengalaman dan jaringan yang didapat selama di Perahu Art Studio.
Salah satu pendiri Perahu Art Studio Dadi Setiyadi mengatakan, tujuan acara diskusi ini lebih pada berbagi pengalaman di kalangan seniman seni rupa. Perahu Art Studio ingin berbagi dengan siapapun mengenai perkembangan seni rupa. Khu-susnya di Jogjakarta.
“Bagi-bagi pengalaman dan jaringan,” tan-dasnya.Berdasarkan pengalamannya mengikuti berbagai program projert art dan pertukaran seniman, maupun pameran di belahan dunia Dadi mengaku banyak jaringan kurator, pemi-lik galeri dan investor yang bisa didapat.
Berdasar itu pula, Dadi mem-bagibagikan pengalaman dan pengetahuannya itu kepada seluruh seniman yang ingin merintis.”Usaha seperti ini (bagi-bagi pengalaman dan jaringan) juga saya tekankan kepada teman-teman, agar karya seni rupa Jogja maupun Indonesia dikenal dunia,” tegasnya.
Apalagi, dominasi karya seni rupa Tiongkok saat ini sudah mulai tergeser. Dadi mengakui hampir selama satu dasawarsa terakhir karya seni rupa lebih didominasi para seniman asal negeri bambu. Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir karya seni rupa para seniman asal Asia Teng-gara mampu mematahkan do-minasi itu.
Ada sejumlah faktor penye-babnya. Karya seni rupa milik seniman Asia Tenggara lebih bervariatif. Mulai dari bentuk hingga warna. Sementara karya seni rupa negeri Tiongkok bisa dikatakan tak banyak pilihan. Kemudian, banyak kolektor seni rupa di dunia mulai enggan melirik ha-sil karya seniman negeri Tiong-kok karena mahalnya harga yang dipatok.
“Di Tiongkok, penjualan satu hasil karya seni bisa dibuat beli jet,” ungkap Dadi menceritakan betapa mahalnya harga karya seni rupa milik seniman Tiongkok.
Lulusan ISI ini menceritakan, dia pernah mengikuti Malaysia Art Expo beberapa waktu lalu. Di situ, ada dua ruang. Satu ruang khusus memamerkan berbagai hasil karya seni milik seniman Tiongkok. Kemudian satunya khusus untuk Asia Tenggara. Menariknya, para pengunjung lebih banyak ke ruang milik seniman Asia Tenggara.
“Dan di hall Asia Tenggara ini, hampir 60 persen adalah karya seniman Indonesia,” tuturnya bangga.
Dari itu, bapak satu anak ini mengajak seluruh seniman di Jogjakarta maupun di Indonesia, mempersiapkan diri dengan babak baru karya seni rupa di dunia internasional ini. Karya-karya seni rupa Indo-nesia mulai dilirik para kolektor di belahan dunia. Bahkan tak tertutup kemungkinan bakal mendominasi percaturan karya seni rupa di dunia.(*/jko/ong)