FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BANTU TETANGGA: Batik nAnom Magelang sekarang memiliki omzet Rp 30 juta per bulan dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Modal Habis Rp 30 Juta, Karya Tak Laku-Laku

Mengawali karirnya di dunia batik, bisa dibilang cukup lama. Bahkan pahit getir pun pernah dirasakan. Itulah Agus Nur Asikin, pemilik Batik nAnom Magelang.
FRIETQI SURYAWAN, Magelang
PADA awalnya, Agus pernah ingin menyudahi bisnis batik tersebut. Sebab, dirinya sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk modal. Namun, pada awalnya ia pernah mengalami tidak laku dijual.
Kini, Agus bisa menikmati hasilnya, setelah bertarung melawan kesulitannya tersebut.
Agus berkisah, yang melatar belakangi mendirikan Batik nAnom Magelang, saat melihat ibu-ibu di sekitar rumahnya yang setiap harinya hanya duduk-duduk dan menonton televisi. Kebetulan, ia memiliki punya peternakan ayam. Tiap pagi sampai sore, dirinya tidak di rumah.
“Saya pasti titip kunci rumah pada tetangga depan rumah saya. Waktu itu, pukul 11.00, saya sadar ada barang yang ketinggalan di rumah dan harus pulang. Eh, tahu-tahunya ibu-ibu yang tadi pagi ngumpul saat saya berangkat kerja, jam segitu masih di situ. Mereka asik nonton sinetron,” ungkap Agus, kemarin (2/11).
Menurutnya, waktu mereka terbuang sia-sia. “Dari tadi pagi itu nggak pindah-pindah bu? Mereka menjawab, lha kasih kami pekerjaan tho pak, yang nggak usah pindah-pindah dari kampung ini,” ucap Agus
Kebetulan, media tengah ramai-ramai membahas batik Indo nesia yang diakui UNESCO. Membaca peluang itu, ia bertekat mengubah garasinya menjadi tempat pelatihan membatik.
“Saya punya uang Rp 30 juta. Saya ajak para ibu-ibu ikut pelatihan membatik. Pelatihnya saya datangkan dari Ambarawa, Solo, Jogjakarta, dan Pekalongan. Semua gratis. Selebihnya saya gunakan membeli bahan-bahan dan peralatan untuk membatik,” paparnya.
Setelah praktik dengan motif sederhana, ia mencoba menjualnya. Nahas, tak ada yang mau membelinya.
“Sejak awal, isti tidak setuju. Apalagi lihat hasilnya sampai numpuk tiga almari dan tak laku,” ucapnya sembari meringis.
Pada 1 Januari 2010, ia tengah di Madura. Ia memang berniat berhenti. “Modal habis, hasil nggak laku. Saya binggung,” akunya.
Entah kenapa, bersamaan dengan niat berhenti, tetangganya ada yang menelepon terus-menerus hingga akhirnya ia mengangkat telepon tersebut.
“Ada ibu-ibu yang telepon saya. Laporan, kalau kainnya habis minta dibelikan. Ya saya jawab saja, sekarang sudah bisa batik kan? Ya sudah selesai.
Tapi ibu-ibu itu menyadarkan saya, wong sudah bisa kok malah mau berhenti. Akhirnya, saya lanjutkan lagi,” Agus mengingat kata itu yang disampaikan pada ibu-ibu rumah tangga yang menelponnya.
Tak lama, pria 47 tahun ini diberi kesempatan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Magelang ikut pameran batik di Jakarta dan pelatihan batik. Saat itu, namanya mulai dikenal. Tapi ada hal menggelikan yang ditemukan saat ikut pameran. Batik-batik yang menurutnya kurang bagus justru yang laku.
“Batik tulis pewarnaan alam, saya bandrol Rp 400 ribu, sama sekali nggak ada yang laku. Setelah saya ganti harganya jadi Rp 1 juta, eh malah laku. Padahal ada yang cantingannya kurang jelas dan pokoknya belum maksimal. Sampai sekarang saya masih heran, kenapa itu bisa terjadi,” ceritanya.
Dari 175 kain untuk pameran, separuh lebih yang laku, ia bisa membawa pulang uang Rp 80 juta.
“Alhamdulillah, bisa buat modal lagi dan saya semakin semangat,” katanya sembari tersenyum.
Sejak saat itu hingga 2012, suami Kukuh Sari Pamungkas mengaku kebanjiran order dari berbagai kota besar. Seperti butik-butik yang ada di Semarang, Jogjakarta, Jakarta, Bandung, dan Magelang.
“Puncaknya pada 2013. Setelah ada instruksi Walikota Magelang Sigit Widyonindito agar pejabat pemkot, BUMN, dan BUMD memakai batik. Selama 6 bulan saya overload pesanan,” kata-nya.
Warga kampong Ringin Anom RT 01/RW 05, Kelurahan Kramat Selatan, Kota Magelang ini me-maparkan, omzet dari pen jualan itu digunakannya mendirikan rumah batik nAnom, tak jauh dari rumahnya. Hingga kini, ia dibantu 12 pegawainya.
“Untuk yang laki-laki gaji bulanan dan bonus. Bagi ibu-ibu gajinya borongan, sebab ibu-ibu berangkatnya masih suka-suka dan sering ditinggal-tinggal, ya kadang nganter dan jemput anak, arisan, atau kondangan. Tapi tidak apa-apa,” katanya.
Bapak dua anak ini mengaku mendaftarkan dua motif khas nAnom. Yaitu, motif gethuk tumpah dan dayak.
“Sudah paten punya saya. Karena hak ciptanya nAnom Magelang. Walaupun begitu, ada juga loh yang menjiplak, sudah kami tegur dan sekarang berhenti. Karena ketahuan antara motif asli nAnom dengan yang palsu,” katanya sembari menerangkan bentuk lengkungan gethuknya berbeda.
Selain dua motif itu, ada motif lain yang diambil dari culture Magelang, ada watertorn, ada juga dari tanaman. Seperti melati, kanthil, daun ketela, sido dan sekar jagat gethuk, ada juga burung podang.
“Pilihan kultur sekitar, karena setiap coretan batik dipengaruhi apa yang per-nah dilihat, sehingga selain menghasilkan keindahan, juga bermakna,” urainya.
Pria yang juga aktif mengelola masjid ini menjelaskan, proses membatik itu cukup mudah. Yang sulit, saat design dan men-canting.
“Awalnya di design dulu. Di buat mal, baru di gambar ke kain. Kemudian di canting, dilowongi, di isi barulah di warna. Terus ditutup lagi, kemudian diwarna lagi, lalu di lorot atau peng-hilangan malam. Terakhir di jemur,” paparnya.
Agus mengaku dalam sehari mampu memproduksi batik cap 30 kain. Sedangkan batik tulis mampu memproduksi 30 kain per bulan.
“Tulis dan warna alam memang lebih rumit dan pro-sesnya lebih lama,” ucapnya.
Bicara soal omzet, pada 2010, ia memperoleh Rp 25 juta per tahun. Tahun 2011, mulai me-nyentuh angka ratusan. Antara 2012-2013, ia mendapatkan omzet Rp 300 juta per tahun dan tahun ini sekitar Rp 360 juta per tahun atau Rp 30 juta per bulan.
“Saya bisa membuka lapangan usaha untuk tetangga-tetangga saya,” imbuhnya.
Imung nama akrab Kukuh Sari Pamungkas yang juga istri Agus mengakui, awalnya tak setuju suaminya berbisnis batik. Sebab terasa sulit untuk ber-kembang.
“Sekarang saya tahu ini menghasilkan, ya saya men-dukung apa yang suami saya kerjakan,” jelasnya.
Slamet Riyanto, 32, pegawai nAnom merasa terbantu dengan adanya usaha batik ini. Ia bisa bekerja, tanpa meninggalkan keluarganya. “Masih satu kampung, Kalau mau pulang juga dekat,” katanya. (*/hes/ong)