HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
DONASI: Siswa SDN Klayar, Nglipar, Gunungkidul saat menerima kunjungan dan pembagian tas dari komunitas @1000_guru Sabtu (1/11).
GUNUNGKIDUL – Peman-dangan Sabtu (1/11) siang lalu di SD N Klayar, Nglipar, Gunung-kidul, penuh dengan anak-anak muda. Sekolah yang seharusnya hanya untuk anak-anak usia tujuh sampai 12 tahun itu tiba-tiba berubah.
Puluhan anak-anak muda, laki-laki dan perempuan, terlihat ber-kerumun membaur bersama siswa. Mereka ini adalah anggota komunitas volunteer yang me-mang hobi untuk mengunjungi sekolah-sekolah di pelosok nu-santara
Anggota komunitas ini berasal dari berbagai daerah di Indone-sia seperti Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Su-rabaya, bahkan dari Makassar.
Mereka tergabung dalam se-buah komunitas nonformal @1000_guru.Selama dua hari, Sabtu dan Minggu (2/11), anak-anak muda ini sengaja mengunjungi sekolah yang terdiri atas enam kelas. Kehadiran mereka tidak sekedar kunjungan saja, tapi juga mem-bawa perlengkapan sekolah yang dikumpulkan dari donasi ber-sama.Mereka juga memberikan mo-tivasi kepada anak-anak gunung ini untuk terus bersekolah sam-pai mimpi-mimpi mereka ter-wujud.
“Kebetulan untuk awal November ini Jogja menjadi tu-juan. Sebelumnya kami ke Ujungkulon (Banten) dan Makassar,” tutur Sandi Perdana, koordina-tor @1000-guru.
Dikatakan, komunitas ini se-benarnya sesama penghobi travelling. Makanya, mereka pun menyasar daerah-daerah pelo-sok sebagai tujuan.
“Semakin pelosok, semakin menarik teman-teman untuk partisipasi,” jelas Sandi.
Selama dua hari di SDN Kla yar ini, mereka lebih banyak berak-tivitas dengan siswa. Mulai ak-tivitas di dalam kelas sampai senam pagi di hari Minggu. “Ma-terinya lebih banyak fun and games,” tandasnya.
Hari pertama atau Sabtu, ak-tivitas masih berada di dalam kelas. Di sini mereka mence-ritakan tentang mimpi yang bisa diraih dengan syarat mudah. Yaitu bersedia belajar dan be-rusaha untuk mewujudkannya.
“Siapa yang pingin jadi dokter? Bisa lo, jika adik-adik mau belajar, kata salah seorang volunteer. Siang hari, anak-anak diper-silakan pulang. Kemudian sore harinya rombongan besar mulai datang. Mereka ini yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Anak-anak pun diminta berkum-pul kembali.
Anak-anak siswa di sekolah ini tenyata sangat antusias. Ini ter-lihat dari jumlah mereka yang kembali ke sekolah. Hanya ada empat siswa dari total 82 siswa di sekolah ini yang tidak kem-bali lagi ke sekolah.
Meski jarak tempat tinggal dengan sekolah rata-rata belasan kilometer. Ini karena siswa bak-al mendapatkan salah satu per-lengkapan sekolah yakni tas.Saat pemberian donasi tas, komunitas ini lebih banyak men-ghibur siswa.
Mereka yang se-hari-hari hanya bertemu dengan guru biasa, sore itu mereka ber-temu dengan kakak-kakaknya yang tentu saja banyak yang tak mengerti bahasa Jawa. Akhirnya, anak-anak dipaksa dua hari menggunakan bahasa Indonesia
.”Wegah (nggak mau) Mas. Geleme dinei tas (maunya dika-sih tas),” celetuk siswa yang di-minta menjawab pertanyaan komunitas tersebut.
Kehadiran komunitas ini, menurut Har-yanto, Kepala SD N Klayar, se-perti menjadi penyemangat siswa.
Apalagi, dengan kondisi geografis dan keterbatasan se-kolah. Ini bakal membangkitkan antusias anak-anak untuk terus belajar.
“Banyak anak didik kami yang putus sekolah hanya sampai SD. Tapi dengan adanya seperti ini, wawasan anak-anak terbuka,” jelas Hary, sapaan akrabnya.
Ia pun merasa terharu, masih ada anak-anak muda yang pe-duli dengan pendidikan. Ia berha-rap, aktivitas sosial seperti ini bisa menginspirasi banyak anak muda lain untuk berbuat. (eri/laz/ong)