Polisi Tembakkan Gas Air Mata karena Massa Melawan

SLEMAN – Dua kelompok mahasiswa asal luar Jawa bentrok di Dusun Prayan Kidul, Condongcatur, Depok, Sleman, kemarin (2/11).Sebanyak 57 orang ditangkap polisi untuk diperiksa. Polisi sempat menembakkan gas air mata setelah memperoleh perlawanan dari massa.
“Mereka melempari kami dengan batu dan petasan asap,” jelas Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin di lokasi kejadian, kema-rin. Dari mahasiswa yang ditangkap, polisi menemukan senjata tajam, tongkat dan ketapel Bentrokan mengakibatkan ke-resahan warga Prayan.
Demi menjaga situasi tetap kondusif, polisi mendirikan posko semen-tara di Prayan. Posko serupa di-dirikan di wilayah Babarsari. Kejadian serupa di Babarsai pada 31 Oktober, diduga sebagai pe-micu bentrokan susulan di Prayan.
Dari sekitar tempat kejadian perkara (TKP) diperoleh infor-masi, bentrokan dipicu perse-lisihan dua mahasiswa di kawa-san Babarsari, Tepatnya di Dusun Glendongan, Tambakbayan. Salah seorang mahasiswa per-guruan tinggi swasta di Jogja berinisial SL dikeroyok oleh kelompok yang berseteru.
Pada Sabtu (1/11) dini hari, kelompok pihak korban melapor ke Polsek Depok Barat dan di-teruskan ke Mapolres Sleman. Polisi mengambil jalan tengah untuk memediasi dua kelompok yang bertikai. Namun, belum ada titik temu.
Situasi makin memanas ketika sekelompok mahasiswa rekan korban menyerang sebuah rumah kontrakan di Prayan Kidul, yang ditempati pengeroyok SL. Pela-ku membawa batu dan senjata tajam. Itulah yang menyebabkan kekhawatiran masyarakat. Ba-hkan, salah satu mobil milik warga pecah kaca akibat terlem-par batu.
Tak ingin terjadi dampak lebih buruk, warga lantas melaporkan kejadian itu ke Polsek Depok Barat. Polisi datang ke lokasi kejadian sekitar 30 menit setelah mendapat laporan warga sekitar pukul 05.15. Aparat gabungan Polres Sleman dan Polda DIJ bersiaga di TKP.
Guna meredam amarah mas-sa, polisi menghadirkan tokoh dan sesepuh masing-masing kelompok di TKP untuk medi-asi. “Kami masih menyelidiki kasus ini dengan memeriksa peran masing-masing pelaku,” ujar kapolres.
Proses mediasi antarpihak menghasilkan kesepakatan da-mai. Para pelaku yang terbukti melakukan tindak pidana, akan diproses secara hukum. Ihsan mengatakan, proses hu-kum harus dilakukan, meng-ingat kasus yang berawal perse-lisihan antardua orang itu ber-buntut menjadi permusuhan dua kelompok etnis.
“Kami te-rapkan Undang-Undang Daru-rat. Terlebih karena ada senjata tajam dari tangan pelaku,” pa-parnya.
Guna menjaga stabilitas wi-layah, polisi menyiagakan 1 SSK Brimob Polda DIJ, 1 SSK Dalmas Polres Sleman, dan 1 SSK Dalmas Polda DIJ. Mereka bersiaga di sekitar TKP.
Kapolres menyatakan, kasus itu kini telah terkendali. Para pelaku dalam pengawasan po-lisi. Karena itu ia mengimbau warga tetap beraktivitas seperti biasa dan tak perlu ada yang dicemaskan.
“Yang penting warga jangan mudah terprovokasi isu. Apalagi sampai main hakim sendiri gara-gara miskomunikasi,” ingatnya.
Camat Depok Budiharjo yang turut terlibat dalam proses me-diasi berharap kejadian bentrok tidak terulang. Kasus bentrokan dua kelompok asal luar Jawa bukan yang pertama terjadi di wilayah Depok, yang pendu-duknya heterogen.
“Seharusnya toleransi tetap dijaga,” ujarnya. (yog/laz/gp)