SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
MEMORI KELAM: Laga bersejarah dan penuh kontroversi saat PSS Sleman meladeni PSIS Semarang di Stadion Sasana Krida Kompleks AAU Minggu (26/10 ) lalu.

Belum Semua Pemain Terima Bayaran Oktober

SLEMAN – Masalah pelik masih menghinggapi manajemen PSS Sleman. Mereka bukan hanya sekadar didis-kualifikasi dari perhelatan Delapan Besar Divisi Utama. Selain itu, tidak adanya pemasukan dalam dua pertan-dingan kandang terakhir babak Dela-pan Besar Divisi Utama 2014 mem-buat PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), selaku pengelola PSS kesulitan membayarkan gaji pemain.
Kondisi semakin pelik karena kontrak penggawa Super Elja belum habis. Ada yang putus hubungan dengan PSS pada November namun ada pu-la yang masih memiliki kontrak hing-ga November mendatang. Otomatis, manajemen PSS berke-wajiban membayarkan gaji dua kali lagi. Padahal saat ini PSS sudah tak lagi bertanding di Kompetisi Divisi Utama
Direktur PT PSS Supardjiono men-gatakan untuk gaji Oktober saja, ma-najemen belum bisa melunasinya. Beberapa pemain memang sudah menerima penuh hak mereka pada bulan 10. Namun masih banyak yang masih belum gajian.
“Jujur saja ka-rena dua pertandingan kandang ter-akhir tak ada pemasukan, finansial kami goyah. Gaji Oktober belum lunas sepenuhnya. Ada yang sudah terima namun ada juga yang belum,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai kontraktor tersebut.
Pardji berharap pekan depan pihaknya sudah melunasi seluruh tunggakan gaji Oktober. Sebab dengan begitu utang gaji PSS tak akan bertumpuk-tumpuk karena manajemen bisa lang-sung berfikir untuk membayar hak pemain November.
Kata Pardji, manajemen menarget-kan pekan depan seluruh pemain PSS sudah menerima gaji Oktober. Se-gala cara pun tentu bakal ditempuh Pardji. Termasuk mencari pinjaman kepada pihak-pihak yang peduli dengan Super Elja.
“Segala cara tentunya akan saya tempuh untuk bisa melunasi gaji pe-main. Ingat PSS adalah salah satu tim yang terkenal tertib dalam membay-ar gaji. Citra ini sebenarnya harus selalu dijaga,” paparnya.
Selain gaji pemain, manajemen juga harus memikirkan biaya ope-rasional lain. Sebabm meskipun sudah terdiskualifikasi, manajemen PSS memutuskan untuk tetap meng-gelar latihan. Terlebih lagi PSS ma-sih memiliki peluang berlaga di semifinal. Sebab saat ini mereka hendak melakukan banding terhadap sanksi diskualifikasi. “Karena latihan lanjut otomatis kami kan juga harus memikirkan dana untuk katering,” sergahnya.
Ada pun kerugian yang dialami PSS karena tak bisa menghelat dua laga kandang dengan penonton mencapai lebih dari Rp 800 juta. Ya, dalam satu pertandingan kandang, PSS dapat meraup pemasukan mel-alui tiket pertandingan hingga Rp 400 juta ke atas.
“Kerugian yang kami alami memang sangat besar. Rp. 800 juta ke atas. Bahkan tidak menutup kemungkinan mencapai Rp 1 miliar,” terangnya.
Direktur Bidang Operasional PT PSS Rumadi berharap Banding PSS bisa diterima Komisi Banding (Komding). Apalagi kejadian sepak bola gajah sama sekali tidak direncanakan klub secara organisasi. (nes/din/ong)