YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
UNIK : Salah satu adegan yang ditunjukkan dalam seni topeng pedalangan Gondo Wasitan di Dusun Ngajeg, Tirtomartani, Kalasan. Dinas kebudayaan akan memberikan fasilitas pertunjukan.

Pemkab Sleman Lakukan Revitalisasi dan Lestarikan Seni Tradisi

Pemkab Sleman terus melakukan upaya pelestarian seni budaya yang ada di masyarakat. Salah satunya terhadap seni topeng pedalangan Gondo Wasitan.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
KESENIAN ini menjadi satu-satunya yang ada di Sleman dan dilestarikan di Dusun Ngajeg, Tirtomartani, Kalasan.Salah satu upaya pelestarian-nya melalui pagelaran revitali-sasi, yang khusus menyajikan seni topeng pedalangan di balai desa setempat akhir pekan lalu.
“Dari kajian kami, kesenian wayang topeng pedalangan me-mang hanya ada satu di Sleman,” ungkap Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Edi Winarya.
Kajian itulah yang mendorong pemerintah berusaha menjaga kelestariannya. Edi khawatir wayang topeng akan punah tergilas seni modern jika tak ada yang nguri-urinya.
“Sangat layak dilestarikan. Dan memang unik,” tandasnya.Adalah Ki Sugeng Cermohan-doko dan Ki Suparno, sesepuh pengelola topeng pedalangan Gondo Wasitan. Dalam pentas revitalisasi seni, dua tokoh ma-syarakat itu terlibat dalam pentas berlakon “Bancak Nagih Janji”.
Revitalisasi lebih ditujukan untuk meningkatkan peran dan fungsi unsur-unsur budaya lama yang masih hidup di masyarakat. Dengan konteks baru yang tetap mempertahankan keaslian tanpa mengurangi esensi seni itu sendiri. Paling tidak, upaya minimal adalah mendokumentasikan secara tekstual dan visual.
“Ini penting. Bagaimana pun, seni langka harus dihidupkan kem-bali,” ujar Kepala Disbudpar AA Ayu Laksmidewi.Arus modernisasi, khususnya budaya barat, memang tak bisa dipungkiri kenisbiannya bagi masyarakat. Imbasnya akan mengikis kesenian budaya lokal.
Akibatnya, generasi muda tak lagi kenal, bahkan tak mau mengenal kekayaan asli peninga-lan nenek moyang yang sarat dengan ajaran moral.
“Ironisnya, mereka justru sering melupakan identitas dan jati diri sebagai orang Indonesia. Itu seharusnya tak boleh terjadi,” ungkap Ayu.
Nah, melalui ajang revitali-sasi, bukan saja seni topeng pdalangan bisa lebih dikenal masyarakat. Tapi sekaligus un-tuk menggaet generasi muda pecinta seni tradisi.
“Setidaknya membuka kesadaran masyara-kat agar mau melestarikan po-tensi budaya lokal lain yang mengandung nilai luhur,” kata pejabat asal Bali itu.
Ayu tak ingin setengah-setengah dalam pelestarian seni tradisi. Khusus seni topeng pedalangan gondo wasitan, Ayu berupaya menampilkannya secara reguler, untuk mendulang dukungan banyak pihak.
Dukungan tersebut bisa ber-upa apa saja. Yang paling mudah dan sederhana adalah melapor-kan ke dinas jika mengetahui ada seni budaya lokal yang ham-pir punah, namun layak diles-tarikan.
Ayu berjanji akan menindakla-njuti setiap laporan. Dinas me-miliki tim pengkaji yang bakal terjun ke lapangan menyurvei hasil laporan warga. (*/din/ong)