Termasuk Dua Orang Diduga Pemicu Bentrok
SLEMAN – Polisi menetapkan 13 tersang-ka dalam kasus bentrokan dua kubu maha-siswa di Dusun Prayan Kidul, Condongca-tur, Depok, Sleman, Minggu (2/11). Ke-13 orang disaring dari 57 orang yang digelan-dang ke Polda DIJ untuk diperiksa. Selan-jutnya, penanganan kasus tersebut dilim-pahkan ke Polda DIJ.
Sebelas tersangka di antaranya ditahan di Mapolda DIJ karena kedapatan membawa senjata tajam. Sedangkan dua lainnya adalah pihak yang diduga menjadi pemicu bentrok. Mereka adalah S dan W, yang tak lain teman satu kampus dan sebangku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogjakarta. Keduanya ditahan di Mapolres Sleman
“Dua orang itu, S dan W saling melaporkan satu sama lain. Keduanya kami tetapkan sebagai tersangka,” ujar Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin kemarin (3/11).
Menurut Ihsan, dari hasil penyidikan, kasus bentrok bermula dari gesekan antara S dan W, yang berujung tindakan saling melaporkan ke polisi. Masing-masing mengaku sebagai korban penganiayaan atas pihak yang dilaporkan.
“Kami masih lakukan pendalaman untuk mencari akar masalah. Bisa jadi akan muncul tersangka lain,” lanjut Kapolres.
Ihsan menegaskan penetapan tesangka kepada S dan W karena terpenuhinya unsur-unsur pidana berupa bukti awal, baik pelapor sebagai korban maupun terlapor. Keduanya dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiay-aan.
Penetapan tersangka bagi S dan W demi memberi kepastian hu-kum bagi keduanya dan masy-arakat. Agar tak menimbulkan kecemasan bagi dua kelompok mahasiswa asal luar Jawa dan warga setempat.
Demi menjaga situasi tetap kondusif, polisi masih menyiagakan petugas Dalmas dan Brimob di dua lokasi. Yakni Dusun Prayan dan Babarsari.
Lokasi kedua ini diduga menjadi locus kejadian awal yang memicu bentrok di Prayan. Posko didirikan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Sampai si-tuasi dan kondisi dianggap aman terkendali.
“Posko siaga 24 jam,” kata perwira polisi dengan me-lati dua di pundak itu.
Agar dampak bentrok tak me-luas, polisi telah mempertemu-kan tokoh-tokoh sentral atau sesepuh dua kelompok yang bertikai untuk membuat kese-pakatan damai.
Nah, hal itulah yang menjadi sorotan Ihsan. Agar tak terjadi missing link an-tara tokoh dengan fakta di lapangan. Ihsan menduga ada kecenderung-an seperti itu.
Dibuktikan dengan telah dilakukannya dua kali pem-bicaraan damai, namun tetap berujung bentrok.Ihsan menegaskan, jika ke de-pan masih terjadi bentrok, pe-negakan hukum dijalankan sampai putusan pengadilan.
“Pencegahan dan rekonsiliasi terus kami lakukan,” ujarnya. (yog/laz/ong)