Gunungkidul Dianggap Paling Miskin
Tapi Ketahanan Pangan Warga Lebih Baik
WONOSARI – Progres angka kemiskinan terbaru provinsi DIJ versi Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan Kabupaten Gunungkidul sebagai wilayah paling miskin.
Angka kemiskinan tersebut dihitung dari jumlah konsumsi kalori makanan dan nonmakanan. Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengatakan meski berdasarkan angka-angka dikatakan miskin namun warganya memiliki budaya menyimpan bahan makanan.
“Itu artinya ketahanan masyarakat wilayah Jogjakarta paling timur bisa dikatakan sangat kuat,” kata Imma-wan Wahyudi, kemarin (3/11).
Dia menjelaskan angka kemiskinan ini lebih banyak dibanding Kulon-progo dimana angka penurunan mencapai 1,92 persen. Hal itu di-sebabkan beberapa faktor di anta-ranya tingginya angka transaksi oleh masyarakat, termasuk adanya bantuan keuangan khusus (BKK).
“Masyarakat Gunungkidul mem-pertahankan konsep ketahanan pangan sehingga hasil pertanian tidak dijual, tetapi barter dengan hasil pangan yang lain. Maka seolah-olah tidak terjadi satu pe-ningkatan konsumsi, karena hitungan konsumsi adalah tran-saksi. Tetapi segi ketahanan pangan lebih baik,” tegasnya.
Menurut Immawan pertanian di wilayahnya menjadi penyangga ke-butuhan pangan sebesar 35 persen di DIJ. Persentase atau angka hanya berkaitan dengan data statistik, se-mentara untuk ketahanan pangan yang berasal dari pertanian berkaitan langsung dengan masyarakat.
Ke depan, pemkab akan mela-kukan langkah dengan cara me-ningkatkan pola transaksi masy-arakat. Selain itu, program pengen-tasan kemiskinan yang dimiliki Satuan Kerja Perangkat (SKPD) seperti, pertanian, peternakan, dan perikanan akan lebih ditingkatkan.
“Namun yang paling penting ialah pertanian. Sebab, sebagian besar masyarakat memiliki pro-fesi sebagai petani,” terangnya.
Untuk itu, Immawan mendorong setiap SKPD menginventarisasi terhadap program penanggulangan kemiskinan dengan penggambaran jelas. Setiap SKPD hendaknya me-miliki program dan catatan lengkap, sehingga mampu memberikan ja-waban lebih konkret, dasar angka membandingkan survei BPS yang selama ini tidak ada pembanding.
Sementara itu, Kepala BPS Gunungkidul Agus Handriyanto mengatakan jumlah penduduk di wilayahnya yang hidup di bawah garis kemiskinan masih 21, 7 per-sen. Angka ini menurun dibanding 2013 yakni mencapai 22, 71 persen.
“Pada level tertentu, jika pe-menuhan kalori makanan dan kesehatan dibawah garis kemisk-inan maka dianggap miskin. Hitung-hitungan kalori tersebut kemudian ketemu nilai rupiah,” kata Agus Handriyanto, kemarin.
Itu artinya, jika yang terjadi adalah sebaliknya bahwa konsumi kalori oleh masyarakat diatas garis, kemudian pemenuhan kesehatan juga baik maka tidak dianggap miskin. Untuk mengukur kedua hal tersebut pihaknya sudah ada petugas di lapangan yang melakukan survei.
“Memang benar, selama ini ma-syarakat Gunungkidul gemar me-nyimpan cadangan makanan. Namun karena kebiasaan menyimpan, jumlah konsumi kurang. Sehingga kalau dihitung-hitung, konsumsi kalori tetap dibawah garis kemisk-inan,” kata Agus. (gun/ila/ong)