16 Tersangka Klithih Dipisah Enam BAP

SLEMAN – Polisi akhirnya me-netapkan 16 orang tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Dimas Afrizal Mustofa, siswa SMK di Seyegan.
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) displit menjadi enam berkas, disesuaikan dengan peran masing-masing pelaku. Ada yang berperan sebagai pelempar batu, pemukul kepala korban dengan botol beling, atau seka-dar ikut-ikutan (turut serta) dengan membonceng motor pelaku.
Kendati begitu, ke-16 ter sangka yang semuanya berstatus pe lajar di satu sekolah negeri di Sleman ini dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.
“Ancaman hu-kuman maksimal di atas lima tahun,” jelas Kapolres Slemanm AKBP Ihsan Amin kemarin (3/11).
Ironisnya, kasus penyerangan dan pengeroyokan yang mengakibatkan tewasnya korban dilandasi motif tidak jelas. Dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka, penyerangan dilakukan tanpa sebab. Bahkan, para pelaku tak mengenal identitas korban.
Kasatreskrim AKP Alaal Prasetyo memaparkan, kejadian itu dilakukan secara spontan saat para pelaku berputar-putar dengan sepeda motor. Nah, se-cara kebetulan, saat itu korban melintas dari arah berlawanan kawanan pelaku.
“Mereka sengaja mencari korban tanpa alasan. Siapa saja,” bebernya.
Pemilihan korban sengaja dicari-cari. Indikasi itu dikuatkan dengan keterangan tersangka yang menyebut bahwa sebelum berpapasan dengan Dimas, mereka sempat bertemu dengan rombongan pelajar lain, yang kebetulan dikenal (tetangga) salah satu pelaku. Karena itu, mereka tak beraksi menganiaya calon “korban” tersebut.
Hingga penetapan sebagai tersangka, ke-16 pelajar masih dititipkan di Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPKS), Kementerian Sosial RI. Mereka tak ditahan di Mapolres atau dititpkan di lembaga pemasyarakatan. Itu dimaksudkan menjaga psikologis anak, meski sebagai pelaku.
“Sejak disidik, ya, di situ. Keputusan akhir ter-gantung vonis hakim pengadilan,” jelas Ihsan.
Kapolres berharap kasus ini menjadi pembelajaran penting bagi siswa, orang tua siswa, guru, dan semua pihak terkait.
“Se-moga ini menjadi kasus terakhir dan tak terulang,” harapnya.
Pekerja Sosial Anak Berhadapan Hukum LPKS Suharno Putro mengatakan, para tersangka tetap bisa menjalankan tugas sebagai pelajar. Juga memper oleh pendidikan keagamaan dan psi-kologis.
“Kami bukan me lindungi pelaku, tapi menjaga hak-hak anak,” ujarnya. (yog/laz/ong)