DAMAR WIJAYA FOR RADAR JOGJA
TINGKAT DUNIA: Damar Wijaya dengan poster dadunya menjadi juara kedua dalam kontes yang diselenggarakan ISO di Jenewa, Swiss.

Awalnya Iseng, Kirim Tiga Poster, Eh…yang Dadu Runner Up

Lagi, mahasiswa UGM menorehkan prestasi di dunia internasional. Damar Panji Wijaya, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisipol, menjadi runner up pemenang kompetisi bergengsi yang diadakan International Standardization Organization (ISO) yang berpusat di Jenewa, Swiss, belum lama ini.
AHMAD RIYADI, Jogja
SEPINTAS penampilan Damar Wijaya biasa-biasa saja. Namun, siapa sangka ma-hasiswa Komunikasi UGM ini memiliki imajinasi dan seni tinggi. Pria yang gemar mengoperasikan komputer ini mengaku kerap mengikuti berbagai perlombaan pos-ter, baik yang diadakan pemerintah maupun swasta, dalam dan luar negeri. Alhasil, pos-ter bergambar dadu memenangi kontes desain poster Hari Standar Dunia yang di-selenggarakan International Standardization Organization (ISO) di Jenewa, Swiss, 14 Oktober lalu.
“Poster ini mendapatkan runner up juara. Penghargaan yang saya terima berupa uang senilai CHF 1500 atau se-tara Rp 19 juta,” kata Damar saat ditemui Radar Jogja, kemarin.
Damar menuturkan, ide dan pembuatan desain poster bergambar dadu itu dibuat dalam waktu lama sampai berminggu-minggu. Bahkan, pembuatan poster terse-but dilakukan siang dan malam di sela-sela aktivitas di kampus.
Poster bergambar dadu yang setiap sisi-nya berisi enam itu mengandung berbagai pesan.
“Saya ingin menggambarkan bahwa dadu itu menawarkan peluang dan kesempatan. Kenapa angka enam dan sama semuanya? Pentingnya kesetaraan menda-patkan peluang maksimal dalam kompetisi bisnis,” terang Damar.
Dalam perlombaan ini, Damar tidak hanya mengirimkan satu naskah poster saja, tapi tiga buah. Selain poster bergambar dadu, poster lain bergambar sebuah konsep podium para juara dan power game. Setelah diseleksi, ternyata dewan juri memilih poster bergambar dadu. Poster karya Damar masuk em-pat besar bersama poster karya peserta dari negara lain yaitu Khyati Trehan asal India, Mu-aiad Fraha dari Inggris, dan Daira Hernandez serta Diana Asprilla dari Kolombia.
Damar menceritakan, ia mengik-uti kompetisi itu bermula dari informasi di internet yang me-nerangkan adanya kontes poster tingkat internasional dalam rangka world standart day. “Awal-nya cuma iseng cari lomba-lom-ba bikin poster. Eh, ternyata menang,” kata Damar yang mengaku sudah berulang kali mengikuti perlombaan poster.
Meski baru dua kali mengikuti lomba desain poster, Damar mengaku sebelumnya ia lebih sering mengikuti lomba desain iklan yang diadakan perusa-haan iklan. Beberapa kali lomba yang diikuti, desain iklan milik Damar belum pernah juara. Kendati begitu, konsep iklannya sering masuk 10 besar.
Kecintaannya pada seni desain grafis, lanjut Damar, berangkat dari aktivitasnya sebagai tenaga penata letak (layouter) sebuah buletin milik UKM mahasiswa. Meski awalnya ia tidak paham dengan program komputer de-sain grafis, karena ditugaskan sebagai peñata letak, mau tidak mau ia harus belajar dan menger-ti corel draw dan photoshop yang berkaitan dengan dunia desain grafis. “Saya pun belajar secara otodidak,” jelasnya.
Damar menjelaskan, ia tidak terlalu mahir bidang seni desain grafis. Tetapi untuk membuat se-buah konsep desain poster atau iklan, menurut hematnya, mem-butuhkan ide kreatif dan rasa seni meski konsep yang ditawarkan sederhana. Namun yang paling penting makna dan pesan dari isi poster tersebut tersampaikan.
Poster berkonsep dadu yang dibuat Damar ini, tidak hanya sebatas untuk perlombaan saja. Karena ikut dinyatakan sebagai pemenang itu, maka posternya juga digunakan oleh kantor per-wakilan ISO di berbagai negara dalam merayakan World Standard Day. (*/laz/ong)