FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
DIINTAI BAHAYA : Inilah salah satu wilayah yang terancam bahaya longsor jika musim hujan tiba. Kondisi tanah di wilayah itu berupa tebing, sangat rentan longsor saat musim penghujan nanti. Warga berharap pemerintah segera mencarikan solusinya.

Harus Dilakukan Antisipasi Jelang Musim Hujan

MAGELANG – Warga di Nambangan dan Pusung, Kelurahan Rejowinangun Utara mulai waswas dengan segera datangnya musim penghujan. Mereka khawatir deng-an bahaya tanah longsor. Kondisi tanah di wilayah itu berupa tebing, sangat rentan longsor saat musim penghujan nanti.
Beberapa titik yang dianggap rawan longsor di antaranya berada di atas rumah Ibu Yani dan Nugroho. Tebing yang terletak di belakang makam Candi Nambang itu sangat rapuh. Terlebih lagi belum ada penguatnya.Tetapi yang paling mengkhawa-tirkan ada di atas rumah Saruju yang merupakan jalan menuju puluhan rumah di tanah bengkok milik Pemkot Magelang.
Karena kalau sampai tanah ter-sebut longsor, selain berakibat bagi rumah-rumah yang ada di bawahnya, juga di atasnya. Meng-ingat perkampungan di Nambangan yang masuk RT 5 RW 19 dan Pusung RT 4 RW 8 cukup padat pen-duduk.
“Iya, dulu pernah dibantu saat menjelang pemilu legislatif dari Pemprov Jateng. Tetapi digunakan untuk membuat talud sementara,” kataSuprihatin istri Saruju. Suprihatin mengaku sudah dua kali longsor menimpa rumahnya. Pertama menimpa kamar yang berada di bagian belakang. Ke-mudian saat longsor kedua menimpa bagian dapur yang berada di sisi timur rumah.
“Takutnya, kalau tidak ada perbaikan segera dengan bangunan yang kuat, tebing bisa longsor lagi,” tuturnya.
Budi Prayitno warga lainnya mengatakan, penguatan tebing dan pembuatan saluran air adalah hal mutlak guna menanggulangi bencana longsor ini. Ini penting untuk menahan tebing yang gampang mlotrok. Sedangkan saluran untuk mengalirkan air ke tempat yang lebih rendah.
“Kalau tidak segera dibangun, akses jalan bisa hilang. Kami harus memutar sampai 1 Km lebih. Padahal jalan tersebut saat ini sudah tidak bisa dilalui kendaraan roda dua,” jelasnya.
Pria yang berprofesi sebagai penjaga sekolah tersebut berharap ada perhatian dari pemerintah. Mereka juga tidak berharap agar bisa terhindar dari bencana.Ketua RW 19 Kelurahan Rejo-winangun Utara, Windarti me ngaku sudah melaporkan ke kelurahan. Bahkan pernah sempat ada ban-tuan guna penanggulangan ben-cana tersebut.
“Bantuan tersebut belum menyentuh hal yang esensi. Yakni penguatan talud,” tegas-nya.
Windarti yang juga Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Magelang berharap ada perhatian eksekutif terhadap nasib rakyat kecil yang terancam bahaya bencana.
“Mohon per hatian dari dinas atau wali kota terkait bahaya longsor ini. Jangan sampai kemudian se-telah terjadi bencana, semua pihak ribut dan saling menyalahkan,” harapnya. (dem/din/ong)