SLEMAN – Lambannya pem-bentukan alat kelengkapan DPRD Sleman bukan hanya dikeluhkan tim anggaran pemerintah daerah. Masyarakat awam pun menilai sikap para wakil rakyat tidak menunjukkan kedewasaan.
Setidaknya hal itu menyeruak dalam kegiatan reses dewan yang dilakukan Anggota Fraksi NasDem Ismi Sutarti di wilayah Mlati. Dalam pertemuan selama tiga hari, masyarakat meminta dewan segera menyelesaikan persoalan alkap, supaya bisa segera be-kerja.
“Dibagilah secara propor-sional dan adil. Itu bukan hal sulit kok. Tinggal niat dewan bagaimana,” ungkap salah seo-rang konstituen yang enggan namanya dikorankan.
Pria paruh baya itu menilai bun-tunya pembahasan alkap karena sifat egois dewan yang tak mau saling mengalah satu sama lain. Itu menjadi kesimpulan dalam reses yang digelar akhir pekan lalu.
Gayung bersambut, Ismi men-desak pimpinan dewan segera memfasilitasi pertemuan antar pimpinan partai untuk berembug menuntaskan persoalan alkap secara musyawarah mufakat.
“Saya paham, warga ingin supaya dewan nggak menang-menangan,” ujar mantan politikus Partai Golkar kemarin (3/11).
Soal pembagian jatah pimpinan alkap, Ismi berpandangan, pro-porsional disesuaikan dengan perolehan kursi partai.
“Ini butuh kesadaran semua dewan. Kalau sampai didemo masyarakat, malah lucu nanti,” lanjutnya.
Selain kinerja dewan yang lam-ban, warga meminta dewan meninjau peraturan daerah yang mengatur pemilihan kepala desa. Khususnya klausul batas pendi-dikan minimal bagi calon kades. Dalam regulasi disebutkan bahwa kandidat minimal tamatan SMP.
Ismi sepakat jika syarat pendidikan dinaikkan menjadi tamatan SMA atau sederajat. Alasannya cukup masuk akal. Pada 2015, para kepala desa memiliki kewenangan mengelola dana desa minimal Rp 1 miliar dari pusat. Nah, tanpa bermaksud menafikan kemampuan tiap calon kades, seseorang dengan pendidikan minim, menurut Ismi cukup rawan.
“Itu bukan dana kecil. Siapa saja mungkin bisa. Tapi, mengelola dana Rp 1 miliar itu berat,” katanya.
Masalah lain yang mengemuka adalah maraknya pembangunan toko modern. Ismi menegarai ba-nyak toko berjejaring yang dibangun melanggar aturan. (yog/din/ong)