SETIAKY/RADAR JOGJA
DISEMPROT AIR: BPBD Sleman mengerahkan satu mobil pemadam kebakaran untuk menyemprotkan air ke atas lubang semburan asap di Dusun Kranggan, Jogotirto, Berbah.
SLEMAN – Wilayah Kecamatan Berbah kembali diguncang fenomena lingkungan yang menggegerkan warga. Tiga tahun lalu, sebuah corp circle terbentuk di area persawahan. Hingga kini belum terungkap pembuat lingkaran berornamen rapi itu. Kemarin (3/11), fenomena lain muncul di Dusun Kranggan, Jogotirto, berupa sem-buran asap pekat dari dalam tanah bersu-hu tinggi.
Asap menyembur dari sebuah gundukan tanah kosong di samping rumah Sumadi, 45, warga setempat
Belakangan diketahui lahan tersebut milik Jafar Sodik, 48, warga Piyungan, Bantul. Sumadi mengaku mengetahui fenomena aneh itu pada Ming-gu malam (2/11) sekitar pukul 20.00.
“Saya tersandung gundukan itu. Ternyata tanah di seki-tarnya sangat panas,” ungkap Sumadi yang kakinya melepuh akibat bersentuhan dengan tanah di sekitar gundukan.
Merasa ada kejanggalan pada tanah, Sumadi lantas mence-ritakan hal tersebut kepada pe-rangkat desa. Lalu, beberapa warga berinisiatif menggali gun-dukan tanah panas itu.
Di luar dugaan, tepat pada gundukan tanah menyembur asap berwarna putih pekat.
Warga lantas menyiram bagian itu dengan air karena khawatir ada api di alam tanah. Namun, upaya tersebut tak menuai hasil.
Keesokan harinya, aparat Polsek Berbah memasang pita po-lice line di sekitar lokasi semburan asap panas. Itu guna menghindarkan dampak negatif dan timbulnya korban.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mengerahkan satu unit blanwir (mobil pemadam kebakaran) ke lokasi tersebut. Petugas menyem-protkan air ke atas lubang asap.
Setelah suhu tanah permukaan menurun, petugas menggali gundukan untuk mencari sumber asap. Hasilnya pun nihil. Beberapa kali langkah itu dilakukan petugas damkar. Untuk menghentikan semburan asap dan memastikan asalnya.
Kepala Pelaksana BPBD Julisetiono Dwi Wasito tak berani memastikan penyebab timbulnya asap panas. Upaya penyem-protan dengan air semata-mata untuk mendinginkan permukaan tanah. Sebab, di sekitar gundukan berserakan daun-daun kering dan batang pohon kering.
“Diguyur air untuk mencegah kebakaran,” katanya. Selanjutnya, BPBD berkoordinasi dengan instansi lain untuk meneliti fenomena alam tersebut.
Diduga Sisa Abu Batubara
Gundukan tanah yang mengeluarkan asap diduga berupa abu batu bara sisa pembakaran sebuah pabrik. Itu dibenarkan pemilik lahan Jafar Sodik. Pria paruh baya itu mengatakan, lahan kosongnya diurug dengan limbah batu bara sisa pembakaran tebu di Pabrik Madukismo. Jafar membeli limbah itu Rp 350 ribu per rit sejak 2010.
“Renca-nanya untuk bahan buat batako,” katanya.
Kendati begitu, Jafar tak tahu penyebab asap panas. Untuk memastikannya, jafar pilih menunggu hasil penelitian instansi yang berwenang. Kabid Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Dinas Sumber Daya Alam Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Fauzan Darmadi menduga kepulan asap bukan fenomena alam. Tapi akibat timbunan material abu sisa pembakaran. Kandungan batu bara yang belum terbakar sempurna diduga sebagai penye-bab timbulnya asap.
“Itu dugaan sementara karena ada timbunan abu warna hitam. Kalau terbakar sempurna, seharusnya berubah putih. Itu indikasinya,” papar Fauzan.
Kepala Dinas SDAEM Sapto Winarno meminta pemilik lahan mengurangi timbunan material dan memindahkan ke tempat lain. Itu hasil koordinasi dengan pejabat instansi terkait, guna menghindari risiko dan dampak negatif.
“Atau pemiliknya bisa segera membuat batako dengan limbah itu,” ujarnya. Sementara itu, Asap panas yang terjadi di Berbah, Sleman, menuai perhatian dari Badan Penyeledikan dan Pengkajan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta. Instansi yang bertugas untuk menyelidikan segala fenomena alam ini sudah bisa menyimpulkan kejadian tersebut.
“Yang jelas, masyarakat tidak perlu khawatir. Karena itu bukan fenomena alam,” jelas Kepala BPPTKG Jogjakarta Subandriyo, kemarin (3/11).
Ia menambahkan, dari informasi awal tim yang turun melakukan kajian tersebut, semburan gas berasal dari tumpukan batubara. Saat terjadi panas matahari, tumpukan batubara ini menimbulkan semburan gas.
“Di bawah tumpukkan ini terbakar,” jelasnya.
Soal dugaan semburan gas tersebut memiliki hubungan geologis dengan gunung api purba, di Nglang-geran, Gunungkidul, Subandriyo dengan tegas menolaknya.
Ia menegaskan, jika tak ada hubungan antara gunung api purba dengan semburan gas dari batubara yang terkena sengatan matahari tersebut.
“Dari kesimpulan awal, tidak ada keterkaitan antara semburan gas itu dengan gunung api pur-ba,” tandasnya.
Ia menjelaskan, meski sampai saat ini tak memiliki data yang menghubungkan semburan gas tersebut dengan fenomena alam, BPPTKG tak akan tinggal diam. Pihaknya akan melakukan kajian secara detail mengenai sembu-ran gas tersebut.
“Kami tetap kaji secara detail untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap sembu-ran gas itu,” lanjut Subandriyo. (yog/eri/laz/ong)