Masuk Tim Seleksi, 10 Nama Dikonsultasikan ke Gubernur

JOGJA – Polemik logo dan tagline baru “Jogja, A New Harmony” tampaknya tak bakal berlanjut. Ini setelah Pemprov DIJ memastikan merangkul desainer lokal yang selama ini mengkritisi logo dan tagline baru tersebut.Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIJ Tavip Agus Rayanto menegas-kan, pihaknya akan membentuk tim seleksi
Tim berisikan desainer yang merupakan sumber daya lokal. “Latar belakangnya praktisi, de-sainer, ahli logo,” ujar Tavip usai menggelar rapat mengenai rebran-ding Jogja, kemarin (4/11).
Siapa saja yang akan mengisi tim seleksi ini, Tavip enggan membeberkan ke publik. Ia be-ralasan jika 10 nama-nama yang masuk dalam seleksi ini baru akan dikonsultasikan ke guber-nur.
“Minggu depan akan di-konsultasikan ke gubernur,” tambahnya.Hanya saja Tavip mengung-kapkan, 10 nama desainer itu merupakan mereka yang hadir saat Forum Group Discussion (FGD) Minggu (2/11) di BPD DIJ.
Pemilihan ini merupakan tindak lanjut upaya pelibatan masyarakat dalam rebranding Jogja ini. Tahapan rebranding ini, lanjut Tavip, memang masih dikon-sultasikan ke publik. Artinya, masyarakat berhak untuk mem-berikan masukan terhadap re-branding itu.
“Yang jadi polemik hanya logo dan tagline. Kalau filosofi, sudah sepakat,” jelasnya.Pelibatan masyarakat ini sangat penting. Sebab, dengan adanya keterlibatan logo dan tagline baru Jogja semua war-ga Jogja akan merasa hander-beni.
“Agar masyarakat ikut memiliki,” tandasnya.
Meski melibatkan desainer lokal, Markplus Inc, selaku pe-rusahaan yang menggarap re-branding Jogja tetap terlibat. Hermawan Kertaya, CEO peru-sahaan itu tak akan masuk tim seleksi. Hermawan hanya akan memberikan asistensi jika ada pertanyaan mengenai filosofi.
Tagline dan logo baru “Jogja, A New Harmony” selama se-minggu terakhir menjadi pole-mik di media sosial. Banyak kritik mengenai logo dan tagline tersebut. Termasuk beberapa pakar komunikasi visual. Salah satunya, pakar komuni-kasi visual dari ISI Jogjakarta Sumbo Tinarbuko.
Ia mengaku telah mem prakarsai gerakan untuk me ngoreksi rancangan grafis lo go baru itu, yang disebut Komunitas Jogja Darurat Logo.
Komunitas ini ter diri atas se-jumlah seniman dan desainer grafis di Jogjakarta. Gera kan itu murni untuk memperbaiki demi tetap ter jaganya citra Jogjakarta se bagai kota budaya.
“Komunitas Jogja Darurat Logo sedang me-nyiapkan pem bacaan ulang logo, dan ke mudian akan di serahkan ke pada Bap peda,” ujarnya.
Menurut Sumbo, konsep lo go itu sudah bagus. Sayangnya logo itu kurang dari sisi vi su al, karena kesan Jogja yang ber-budaya dan Keraton tidak mun-cul.
“Bahkan kami li hat kesannya lebih modern,” kata Sumbo. Ia merinci logo itu le bih men-jadi gambaran tentang sebuah hotel di Jogjakarta. Huruf “J” per-tama yang ka pital tampak seperti huruf “T”. Huruf j” kedua tampak se perti huruf “u”. Akibatnya, ka ta “Jogja” pada logo itu tampak ter-baca “Togua”. (eri/laz/ong)