JOGJA – Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten) RI mendorong pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Dukungan ini disampaikan untuk mencegah krisis energi yang selama ini mengandalkan energi fosil. Apalagi, stok energi fosil belakangan ini kian berkurang.
“Indonesia sudah siap membangun PLTN. Hanya, keputusan politik, kebijakan pemerintah yang belum ada,” kata Deputi Bidang Pengkajian dan Keselamatan Bapeten Khoirul Huda kepada wartawan di sela-sela acara Seminar Asia Eropa Metting (ASEM) di Hotel Melia Purosani, kemarin.
Menurut Khoirul, kesiapan Indonesia membangun PLTN dapat dilihat dari ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Sejauh ini, ahli nuklir yang bergelar sarjana hingga profesor sudah cukup banyak. Di lingkungan Bapeten, ada 150 orang yang bertugas sebagai pengawas radio aktif nuklir. Selama ini mereka mengawasi radio aktif yang ada di rumah sakit dan institusi riset.
“Vietnam sudah mulai membangun PLTN, sudah saatnya Indonesia juga membangun PLTN untuk mengatasi krisis energi,” ungkapnya.
Kepala Bapeten Jazi Eko Istiyanto mengatakan, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan pengawas nuklir. Seminar ini dihadiri berbagai negara Eropa dan Asean, seperti RRT, Singapura, Perancis, Pakistan, India, dan lain sebagainya. Dalam pertemuan ini, para peserta bertukar pengalaman.
“Teknologi nuklir sangat cepat. Keselamatan nuklir harus diperhatikan dan nuklir itu aman,” kata Jazi, kemarin.
Kepala Biro Perencanaan Bapeten Yusriheni menambahkan, tenaga ahli yang memiliki keterampilan sebagai operator nuklir PLTN sangat siap. Sebab, operator reaktor untuk riset lebih rumit dan berat dibandingkan PLTN.
“Reaktor riset dan rumah sakit lebih rumit dibandingkan PLTN. Kalau PLTN sekali dinyalakan, sedangkan raktor riset/ rumah sakit hampir setiap hari dinyalakan dan dimatikan,” terang Yusriheni. (mar/jko/0ng)