DWI AGUS/RADAR JOGJA
KONTEMPORER: Penampilan koreografer Mila Rosinta di Pendopo Tari ISI Jogjakarta.

Hadirkan Konsep Kekinian, Jeli Memaknai Perubahan

Karya kreasi para koreografer muda terus mewarnai bumi Jogjakarta. Termasuk dalam hal tari kontemporer yang saat ini terus berkembang. Berbagai warna hadir dengan ragam kekayaan dan kekuatan. Inilah yang menginisiatif sejumlah insan tari menggelar unjuk karya dan diskusi di Jurusan Tari ISI Jogjakarta.
DWI AGUS, Bantul
JOGJAKARTA memiliki ragam kekayaan seni yang kaya dan melimpah. Berangkat dari tradisi, kesenian tari saat ini menga-lami perkembangan. Percampuran dengan ide segar dan dinamika mampu meng hasilkan sebuah konsep kontemporer.
Sejumlah pemerhati tari Jogjakarta pun tergelitik untuk melihat sejauh mana per-kembangan tari kontemporer. Dengan me-lihat kontemporer, maka bisa terlihat perkembangan budaya khususnya tari dalam suatu daerah.
Bertempat di stage tari ISI Jogjakarta, delapan koreografer muda unjuk karya. Tidak hanya itu, para koregrafer ini lalu menjelaskan dalam diskusi yang digelar di pendopo tari ISI Jogja-karta. Acara ini pun dikemas selama dua hari, Sabtu (1/11) dan Minggu (2/11) lalu.
“Setiap koreografer pasti memiliki cara pandang tersendiri, terlebih dalam berkarya. Tentunya kontemporer dapat mencirikan suatu kekinian yang terus mengalami perkembangan Bahkan mungkin sebuah kon-temporer dapat menjadi nilai tradisi ke depannya,” kata penanggungjawab kegiatan Bambang Pudjasworo (2/11).
Perbincangan menarik pun terjadi membahas pemaknaan kontemporer. Di hari pertama acara bertajuk Yang Muda Yang Mencipta Wacana Tari Kontem-porer Indonesia menghadirkan empat koreografer. Mereka ada-lah Mila Rosinta Totoatmojo, Ajeng Soelaeman, I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, dan Ari Ersandi. Memiliki jam terbang tinggi, keempatnya hadir dengan karya penciptaan masing-masing.
Salah seorang pembahas Prof Dr Y Sumandiyo Hadi menilai, kontemporer adalah konsep yang kompleks, di mana setiap koreo-grafer mampu menghadirkan konsep kekinian. Sensitif terhadap sebuah dinamika dan jeli dalam memaknai sebuah perubahan.
“Kita melihat bahwa kontem-porer itu ibaratkan suatu hal yang abstrak. Tugas seorang koreogra-fer adalah menyampaikan ide pesan dan konsep tarian ke pe-nikmat sajian. Jangan hanya berkutat pada kenikmatan sen-diri, tentunya menjadi percuma,” katanya (1/11).
Dirinya pun tidak menampik menghadirkan sebuah kontem-porer itu sulit. Terlebih pe-maknaan setiap gerakan dapat melahirkan perspektif yang berbeda. Menjadi tugas berat ketika seorang koreografer dapat menyampaikan hal ini.
Meski awalnya hanya berjalan dalam perspektif penari, tetap ha-rus disampaikan keluar. Inilah mengapa kontemporer dapat men-ciptakan sebuah ruang diskusi.
“Mungkin akan berbeda dengan tradisi yang sudah ada pakemnya, kontemporer ini tidak ada. Namun mengemas tradisi men-jadi kontemporer pun ada per-bincangan menarik. Apakah tetap sesuai pakem tradisi atau berani menabrak,” katanya.
Uniknya dalam diskusi ini turut melibatkan lintas disiplin ilmu. Sehingga cipta karya tari kontemporer ini dipandang dari berbagai sudut. Tujuannya untuk melihat sejauh mana perkembangan dan pemak-naan karya.
Dr Sumaryono yang berkiblat pada seni tradisi mengapresiasi karya-karya ini. Menurutnya, kontemporer bukanlah karya yang gampang dan asal feeling. Perlu suatu konsep penggarapan hingga pendalaman penelitian.
Setiap koreografer yang tampil pun memiliki pengalaman yang berbeda. Dampaknya tentu saja ke setiap karya yang ditampilkan. Jam terbang dan pengalaman pun dapat menjadi model kuat dalam menggeluti tari kontemporer.
“Jika penilaian subjektivitas pribadi tidak sesuai dengan yang diinginkan. Misalkan ada yang menggabung dua tari tradisi. Proses transisi pergantian ini mengganggu, tapi karena kon-temporer ya sah sah saja,” ungkapnya (2/11).
Pandangan berbeda juga dibe-rikan oleh seorang pengamat sastra Purwadmadi. Menurutnya, kon-temporer merupakan konstruksi teror mental sehingga perlu me-nyikapi dengan kekinian yang hangat dan kontekstual.
Dirinya pun mengartikan kon-temporer melalui pendekatan anak jalanan, di mana merespons dinamika lingkungan seni. Di dalam proses kreatif kontempo-rer ini bukan hanya konsep tapi juga sebuah semangat.
Secara terperinci dirinya meng-gambarkan kontemporer meru-pakan perlawan dan juga penyeimbang tradisi. Jogjakar-ta merupakan kota yang kuat akan akar tradisi. Namun jika tidak diimbangi dengan di namika perubahan, juga akan membunuh secara perlahan.
“Perlawanan yang santun dan menumbuhkan keseimbangan baru terhadap hegemoni kekua-tan tradisi. Jika Jogjakarta hanya ada budaya tradisi dan klasik, maka bisa hilang karena tidak ada perseimbangan,” ungkapnya.
Dirinya melanjutkan, kontem-porer bukanlah sebuah ancaman. Jika ditelisik lebih dalam justru dapat menjadi kekuatan. Tak jarang juga kontemporer berpi-jak pada kekuatan-kekuatan tari tradisi.Naomi Srikandi yang memi-liki basic ilmu teater memiliki pandangan yang berbeda pula. Sebuah pertunjukan tari, me-nurutnya, tak ubahnya seperti teater, di mana memiliki ke-kuatan untuk melakukan interaksi sosial.
Mengemas dengan drama-turgi para koreografer ini diha-rapkan tidak berkarya untuk diri sendiri. Poinnya terletak pada melihat alternatif ruang sosial bersama yang dikelola menjadi suatu peristiwa bersama.
“Adanya ruang diskusi antara seniman dan penonton tak ubahnya seperti teater. Jika tampil sendiri dan interaksi social juga percuma. Tidak bisa menghasilkan hanya dengan ego tapi juga dengan altergo untuk melihat kebutuhan yang lain,” ungkapnya.
Tanggapan positif juga dibe-rikan Dekan Fakultas Seni Per-tunjukan ISI Jogjakarta Prod Dr I Wayan Dana, S.S.T., M. Hum. Meski selalu hadir dalam per-spektif yang berbeda tapi ini merupakan kekuatan.
Apalagi jika melihat seni se-cara keutuhan tentunya meng-ikuti sebuah dinamika. Pengaruh dinamika ini bisa dari dalam maupun luar. Seni-seni modern pun turut menunjang per-kembangan sebuah nilai kon-temporer karya tari.
“Gagasan unik dan inspiratif selalu hadir dan mengedepankan konsep kekinian. Adanya kebe-basan berekpreso dan semakin menipisnya sekat antara tari dengan disiplin ilmu seni lain-nya. Inilah mengapa sebuah tari kontemporer perlu perspek-tif dari berbagai sudut,” kata I Wayang Dana.
Narasumber kegiatan ini Sal Mur-gianto menilai ruang kreasi dan diskusi sangatlah penting. Forum karya inilah yang mampu melihat pergerakan tari kontemporer. Tidak hanya berkutat pada ruang latihan dan ruang ujian saja.
Tapi dirinya tetap menegaskan bahwa seniman tidak hanya ber-karya untuk diri sendiri. Peng-garapan secara filosofi tanpa bisa dinikmati juga hilang estetikanya. Diapun berharap agar setiap korografer dapat menanamkan kekuatan kreativitas dan kritis.
Pementasan ditutup dengan empat korografer muda di hari kedua (2/11). Seperti karya dari Aprilia Wedaringtyas, Arjuni, Boby Ari Setiawan dan Janihari Persada. (*/laz/ong)