GUNTUR AGA TIRTA/RADAR JOGJA
TAK TERAWAT: Bangunan peta wisata yang berada di kawasan Malioboro, kondisinya memprihatinkan. Selain pelindung kacanya pecah, keadaannya juga diwarnai coretan.
JOGJA – Empat bangunan peta wi-sata yang berada di sepanjang Malio-boro, tak terawat. Peta wisata tersebut antara lain berada di Taman Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali, depan Hotel Inna Garuda, depan Kepatihan, dan di Titik Nol Kilometer
Salah satu bukti tidak terawatnya peta wisata tersebut, bahwa kaca yang menjadi pelindung peta tersebut sudah pecah. Selain itu, keadaan peta wisata juga sudah dicorat-coret, dan ada yang tertutupi oleh kendaraan parkir atau oleh orang berjualan.
Lebih miris lagi, perlakuan warga se-kitar yang ikut cuwek, padahal kebera-daan peta wisata tersebut sangat pen-ting sbagai petunjuk para wisatawan. Salah seorang wisatawan asal Bandung (Jawa Barat), Ririn mengaku, dengan peta wisata telah membantu dirinya mengetahui wisata di Jogja.
“Dengan keberadaan peta wisata ini, saya jadi paham. Sehingga tidak perlu banyak bertanya lagi,” katanya di temui saat jalan-jalan di Malioboro.
Pengakuan Ririn ini, jelas menggam-barkan pentingnya keberadaan peta wisata tersebut. Sehingga sangat ironis, keberadaan peta tersebut tak dirawat dengan baik.Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Syarif Teguh mengaku, fasum (fasilitas umum) tersebut tak masuk aset dari UPT Malioboro. Sehingga, pihak UPT tak bisa menganggarkan biaya perawatan peta wisata tersebut.
“Tidak masuk UPT Malioboro. Mung-kin Dinas Pariwisata atau DBGAD (Dinas Bangunan, Gedung, dan Aset Daerah),” kata Syarif.
Ia menambahkan, sampai sekarang tak ada pelimpahan peta wisata itu menjadi aset UPT Malioboro. Inilah yang menyu-litkan pihaknya untuk membiayai pera-watan peta petunjuk yang berada di Taman Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali, depan Hotel Inna Garuda, depan Kepatihan, dan di Titik Nol Kilometer.
“Sebenarnya, keberadaan peta wisata ini memang sangat bermanfaat,” ujarnya.
Kebutuhan wisatawan akan peta pe-tunjuk sebenarnya sangat besar. Ini terungkap dari pengakuan Syarif, bahwa setiap hari, pihaknya selalu dimintai peta wisata, berupa leaflet oleh wisa-tawan. “Kalau yang berada di tempat kami (leaflet) gratis,” imbuhnya.
Ia menambahkan, sesuai dengan ke-wenangan, pihaknya hanya melayani permintaan dengan membagikan leaflet tersebut. Sedangkan untuk peta petunjuk, UPT Malioboro menanti pelimpahan aset dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berwenang.
“Tahun depan kalau tidak ada pelim-pahan aset, kami juga tidak bisa mengang-garkan untuk perawatan peta wisata tersebut,” pungkas Syarif. (eri/jko/ong