WONOSARI – Dinas Tanaman Pangan dan Hortikulutar (TPH) Gunungkidul mengimbau kepada masyarakat untuk hati-hati terhadap pupuk nonsubsidi yang dijual dengan harga murah. Petani juga harus jeli memilih, karena ada diantara jenis pupuk sengaja dibuat mirip dengan merek asli namun kualitas dipertanyakan.
Kepala Dinas TPH Gunungkidul Azman Latif merasa perlu menyampaikan hal tersebut kepada publik supaya petani tidak terjebak iming-iming harga murah. Diantara merek pupuk serupa namun tak sama adalah Poska dan SP3.6. “Padahal yang benar adalah ponska, pakai N. Kemudian pupuk jenis SP36 juga ditiru dan diubah menjadi SP3.6. Padahal yang benar tidak menggunakan titik,” kata Azman Latif saat dikonfirmasi kesiapan dinas menjelang musim tanam, kemarin (4/11).
Azman menjelaskan merek pupuk tersebut memang berizin dan secara aturan tidak ada kesalahan. Namun demikian, masyarakat hendaknya hati-hati dan tidak tergoda karena harga lebih miring dibanding yang asli.
“Lha ini, harga pupuk tersebut lebih murah dibanding dengan pupuk bersubsidi. Jadi, kita bisa sama-sama mempertanyakan bagaimana kualitasnya,” terangnya.
Masyarakat diimbau tidak perlu terburu-buru pada saat membeli pupuk. Pemerintah sudah menyediakan pupuk murah (bersubsidi) dengan stok melimpah. Stok selama satu tahun jenis urea sebanyak 10.830 ton. Jenis Npk sebanyak 4.849.000 ton, Sp36 sebanyak 905 ton, Za 908 ton dan pupuk organik sebanyak 3.056 ton.
“Pupuk tersebut sekarang sudah ada di gudang dan sebagain sudah dibawa distributor untuk dikirim ke pengecer di sejumlah wilayah kecamatan,” ujarnya.
Menurutnya mekanisme penyaluran pupuk bersubsidi sangat hati-hati dan menggunakan sistem tertutup. Pupuk harga murah dari pemerintah hanya bisa diambil ketika kelompok tani memiliki rencana definitif kebutuhan kelompok (RDK). “Agar data penerima subsidi pupuk memang berangkat dari bawah,” bebernya.
Menurut Azman, sesuai prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan pertama akan jatuh pada akhir bulan ini. Persiapan lahan dari petani sudah dilakukan, ketersediaan pupuk dari pemerintah juga siap.
“Sedangkan untuk bantuan benih dari pemerintah sekarang memang berbeda dibanding tahun sebelumnya. Jika dulu subsidi dalam bentuk benih, namun sekarang petani diminta beli sendiri. Jumlah bantuan sekarang juga lebih sedikit,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Gudang Pupuk di Gunungkidul Rohmat mengatakan dari total stok jenis pupuk urea sebanyak 10.830 ton di dalam gudang. Sebagian besar sudah didistribusikan kepada pengecer. Belakangan juga sudah terjadi antrean pengambilan pupuk dari pihak distributor untuk disebarkan kepada pengecer di setiap kecamatan. “Sudah lima ribu ton lebih pupuk urea keluar dari gudang,” kata Rohmat. (gun/ila/ong)