DWI AGUS/RADAR JOGJA
SANG PAHLAWAN: Salah satu karya perupa yang dipamerkan di Jogja Gallery.
JOGJA – Para seniman memiliki cara sendiri untuk merayakan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober dan Hari Pahlawan 10 November. Para seniman Jogjakarta yang tergabung dalam komunitas Jagad Rupa menggelar seremonial khusus.
Bertajuk Sang Pahlawan, puluhan seniman perupa ini menggelar pameran di Jogja Gallery hingga 15 November mendatang.Karya yang disajikan beragam mulai dari karya lukis hingga patung. Puluhan karya ini hadir dengan perspektifnya masing-masing mengenai tema pameran
Tentunya ini merupakan buah pikir para seniman dalam memaknai tema Sang Pahlawan.
“Tentunya perspektif ini hadir dengan pendekatan ala seniman. Tidak hanya memaknai seorang pahlawan besar, rakyat kecil pun merupakan pahlawan, seperti petani maupun buruh,” kata ke-tua pameran Lindu Prasekti (4/11).
Lindu menambahkan, saat ini penerapan nilai Sumpah Pe-muda maupun Hari Pahlawan semakin luntur. Terbukti dengan banyaknya konflik yang terjadi di masyarakat. Belum lagi hi-langnya penghargaan atas jasa-jasa pahlawan.Kehidupan yang semakin apatis ini menjadi inspirasi para seniman untuk beraksi.
Seperti karya milik Agus Katro yang bertajuk Pahla-wanku (130 x 80 cm). Dalam ka-ryanya kali ini dia menghadirkan dua sosok petani dengan latar belakang sawah yang luas.
Melalui karyanya ini ia berce-rita bahwa petani adalah seorang pahlawan sejati. Tapi juga bentuk kritik karena saat ini lahan perta-nian sudah berganti dengan ladang beton. Majunya pembangunan di sisi lain juga membunuh ratu-san hektare areal persawahan.
“Ini saya lihat sendiri bagaimana lahan pertanian saat ini beralih fungsi. Tentunya para pahlawan kita para petani kehilangan mata pencaharian mereka. Imbasnya juga terhadap ketahanan pangan di Indonesia,” katanya.
Beda dengan Chamit Arang yang mengangkat tema pendi-dikan. Lukisan berukuran 100 x 135 cm dengan tajuk Sacrifice ini mengambil objek anak kecil dan pensil. Keduanya merupa-kan simbolis dari perjuangan pendidikan di Indonesia.
“Mirisnya saat ini pendidikan di Indonesia semakin tidak terjangkau. Padahal sebagai generasi bangsa kita wajib memajukan kecerdasan bangsa. Tapi ini merupakan ben-tuk pengorbanan untuk meraih apa yang diimpikan,” katanya.
Lain halnya dengan Subagyo yang mengangkat orangtua se-bagai pahlawan. Dengan melu-kis dirinya sendiri, pria ini meng-gambarkan orangtua adalah pahlawan sejati. Dalam men-jaga, merawat, edukasi dan mensejahterakan.
Orangtua pun rela berkorban agar anaknya bisa tersenyum dan bahagia. Meski harus ber-jibaku dan tertatih dalam mela-koni perjuangannya. Dirinya menyajikan karya bertajuk Escape from Heaven yang menggam-barkan pria dengan kuas di tangan kanan, dan peralatan masak di tangan kiri.
“Tentang diskriptif saya sen-diri dalam menghidupi kelu-arga. Menjadi seniman untuk menghidupi keluarga dengan simbol kuas dan peralatan dapur,” katanya. (dwi/laz/ong)