Minta Kembalikanke Konsep Awal

JOGJA – Merasa tak kunjung men-dapatkan perhatian dari pihak menge-lola XT Square, para pedagang men-datangi Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja, kemarin (4/11). Mereka wadul tentang kondisi di XT Square yang meski ramai pengunjung, tapi tak memiliki efek positif terhadap stan UMKM.
Menurut mereka, meski sudah ber-jualan selama dua tahun di pasar seni dan kerajinan yang merupakan eks terminal Umbulharjo itu, mereka mengaku masih terus merugi. Bahkan untuk membayar sewa los dan kios saja, mereka tak mampu, akibat jualannya tak laku.
Mereka berharap Forpi bisa mem-bantu mereka, agar pihak pengelola mengembalikan konsep XT Square yang sebenarnya, yakni khusus men-jadi pasar seni dan kerajinan bagi kalangan UMKM di Kota Jogja.
Ketua Forpi Kota Jogja Winarta me-ngatakan, pihaknya segera menin-daklanjuti pengaduan para pedagang XT Square tersebut dengan melakukan pemantauan langsung ke XT Square. Hal itu juga untuk mendapatkan data lain di lapangan, selain dari ke-luhan pedagang.
“Hasilnya akan menjadi rekomen-dasi bagi Pemerintah Kota,” jelas Winarta.
Dari pertemuan dengan pedagang, jelas Winarta, terdapat ide-ide peng-embangan XT Square dari para pe-dagang. Hanya saja, ide-ide tersebut tidak mendapat tanggapan yang baik dari pengelola pasar.
“Kami men dorong adanya evaluasi untuk menjawab keluhan pedagang ini,” katanya.
Salah satu pedagang XT Square Tri Harso Wibowo mengatakan, persolan ini muncul karena ketidakbecusan manajemen XT Square. Mantan Ketua Paguyuban pedagang XT Square ini mengatakan, paguyuban dan mana-jemen berjalan sendiri-sendiri.
Dirinya mencontohkan, sebagai pasar seni dan kerajinan, para pedagang pernah bekerja sama dengan men-gundang tour guide. Saat itu pihaknya hanya ingin memberi contoh ke manajemen.
“Sebetulnya manajemen juga pernah mengundang Asita, PHRI atau BP2KY, tapi yang disampaikan bukan program, malah jualan kios,” terangnya.
Keluhan juga disampaikan penjual pakaian anak dan batik, Istilatifah. Menurut dia, sebenarnya pada akhir pekan, XT Square banyak pengun-jungnya, tetapi mereka mendatangi kuliner dan live music, bukan ke stan UMKM.”Sebulan belum pasti bisa laku sepo-tong pun,” ungkapnya. (pra/jko/ong)