MAGELANG – Rekomendasi teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu dan Opak (BBWSSO) soal izin penambangan, dipertanyakan. Sejumlah penambang pasir dan batu manual di Kabupaten Magelang menilai BBWSSO enggan menerbitkan rekomendasi. Padahal penambangan dengan alat berat bisa dilakukan di alur Sungai Bebeng.
“Kami sudah mengajukan izin untuk menambang manual selama hampir dua bulan. Hingga sekarang, izin belum turun dan kami menunggu rekomendasi dari BBWSSO,” kata salah satu penambang manual, FatkhulMujib, kemarin.
Fatkhul menjelaskan, lamanya rekomendasi dari BBWSSO , membuat penambang manual resah. Padahal penambangan liar dengan alat berat banyak dilakukan di sejumlah titik. Dia memetakan ada tujuh alat berat yang masih beroperasi, terutama di Kecamatan Srumbung, yakni di Watu Gede, Elpenta, alur Sungai Bebeng dan lainnya.
“Kebanyakan alat berat memang beroperasi di lahan-lahan pertanian dan alur Sungai Bebeng,” tambah pria yang juga Koordinator LSM Punakawan ini.
Dikemukakan, saat ini penambangan juga telah merambah lahan-lahan pertanian sekitar alur Sungai Bebeng. Alasannya, karena di sungai deposit material sudah habis.
Kepala Bidang OP BBWSSO, Seno menjelaskan, rekomendasi teknis (rekomtek) dari pihaknya memang belum dikeluaran. Ada beberapa aspek yang membuat belum dikeluarkannya rekomendasi, salah satunya data permohonan belum lengkap.
“Rekomtek ditujukan kepada bupati dan bukan kepada penambang manual sebagai pemohon. Setelah rekomtek diterima, bupati bisa saja mengeluarkan izin. Tentunya bila memang semua persyaratan telah dipenuhi. Mungkin bisa dicek di bagian perizinan apa yang kurang, sehingga rekomtek belum jadi,” ungkap Seno.
Terkait adanya alat berat yang masih beroperasi, Seno mengatakan bahwa adanya alat berat melakukan aktivitas penambangan, berarti liar. “Sudah bisa dipastikan, para penambang itu belum mengantongi izin. Apalagi di wilayah Kabupaten Magelang, penambangan dengan menggunakan alat berat, dilarang,” ungkapnya. (dem/jko/ong)