GUNAWAN/RADAR JOGJA
JADI TONTONAN: Panitia penyelenggara kegiatan VCT juga menggelar hiburan organ tunggal di area bekas bangunan terminal, kemarin (4/11). Hal ini dilakukan agar sosialisasi bisa lebih mengena ke masyarakat. Dalam kesempatan ini, relawan juga membagikan brosur berisi tentang pencegahan dan penularan penyakit berbahaya tersebut.

Adakan VCT di Bekas Terminal untuk Warga Berisiko

WONOSARI – Pemkab dan pemerhati masalah sosial di Gunungkidul terus berusaha meminimalisasi penyebaran penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) – Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).
Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul kemarin (4/11) melakukan Voluntary Counseling Test (VCT) di area bekas bangunan terminal lama Baleharjo Wonosari.
Sekretaris KPAD Gunungkidul Iswandi mengatakan tes tersebut bertujuan untuk mempersempit penyebaran HIV/AIDS. Dalam kesempatan ini, bersama dengan relawan juga membagikan brosur berisi tentang pencegahan dan penularan penyakit berbahaya tersebut.
“Biar lebih santai dan tidak terkesan serius, juga digelar hiburan musik organ tunggal,” kata Iswandi.
Dia menjelaskan keikutsertaan peserta tes merupakan inisiatif masyarakat sendiri alias tidak ada paksaan. Mereka secara sukarela datang ingin memastikan apakah terbebas dari penyakit mengerikan itu.
“Kita jamin, tes yang dilakukan bersifat rahasia sehingga hasilnya tidak akan pernah dipublikasikan. Hal ini dilakukan untuk menjaga privasi,” terangnya.
Menurut Iswandi meski tes dilakukan secara gratis namun tidak semuanya dapat ikut. Itu karena pertimbangan biaya yakni sebesar Rp 180 ribu setiap orang. Untuk itu, dalam pelaksanaa tes dilakukan secara selektif.
“Sebelum tes dilakukan akan ada konselor yang mendampingi peserta. Kalau terbukti risiko terpapar tinggi, maka langsung ke tahap tes. Jika tidak maka tak di tes,” bebernya.
Sementara itu, salah seorang peserta tes Alvian Novi Handana mengaku tertarik ikut tes karena ingin mengetahui kondisi kesehatannya. Sebelum dilakukan tes, seorang konselor menanyakan latar belakang untuk ikut tes.
“Saya ditanya mulai dari pekerjaan, perilaku kehidupan sehari-hari dan masih banyak lagi. Karena pekerjaan saya sebagai petugas laboratorium kesehatan, termasuk berisiko tinggi maka diperbolehkan ikut,” kata Alvian.
Sebelumnya, Kepala Bidang Penanggu-langan dan Pencegahan Penyakit Dinkes Gunungkidul Sumitro mengatakan hingga sekarang total jumlah penderita mencapai 133 orang dan 22 orang di antaranya meninggal dunia. Dari data itu penderita AIDS mencapai 87 orang dan penderita HIV 46 orang.
Kondisi ini di luar kewajaran, karena di daerah lain biasanya penderita HIV lebih tinggi. Namun, di Gunungkidul jumlah penderita AIDS lebih tinggi. Penyebarannya juga sudah merata di seluruh kecamatan. Data terbaru, kata dia, mulai Januari hingga akhir Maret tahun ini sudah diketemukan sebanyak 11 penderita. (gun/ila/ong)