JOGJA-Pembinaan olahraga DIJ memang sedang mengalami krisis pendanaan. Saat ini getah dari minimnya dana ini juga dirasakan oleh cabang olahraga (cabor) tinju.
Karena tidak memiliki dana, Pengprov Pertina DIJ tidak mengirimkan satu pun atletnya ke ajang Kejurnas di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), 3-9 November mendatang.
Padahal, Pengprov Pertina DIJ sudah mengurangi jatah atlet yang diberangkatkan ke Makassar. Awalnya, mereka hendak memberangkatkan enam petinjunya. Tapi seiring berjalannya waktu hanya dua saja yang dipersiapkan, yakni Birdan (kelas layang 49 kg) dan Bimo Prakoso (Welter ringan 64 kg).
Namun peluang untuk Birdan dan Bimo turun di Kejurnas pun akhirnya kandas. Ketua Bidang Binpres Pengprov Pertina DIJ, Ferry Kuahaty mengakui akar masalah ini memang soal pendanaan yang minim. “Ya, saya akhirnya diberi tahu kalau kedua petinju ini pun harus batal berangkat. Ya karena pendanaan juga. Padahal mereka sudah sangat siap mengarungi Kejurna,” tandas Ferry beberapa waktu lalu.
Ferry menyesalkan tidak adanya delegasi DIJ di Kejurnas. Selain karena pendanaan, tidak kompaknya pengurus Pengprov Pertina DIJ membuat persiapan Kejurnas terbengkalai,
Ferry juga merasa kasihan dengan petinju-petinju DIJ. Sebab Kejurnas ini sangat penting sebagai salah satu pon penilaian bagi petinju yang ingin terjun di ajang Pra PON 2015. “Memang masih banyak ajang lain untuk mengumpulkan poin. Namun satu ajang saja dilewatkan itu bisa menyulitkan petinju,” jelasnya.
Ya, jika di pra PON 2015 saja DIJ terancam tak memiliki wakil, apalagi di ajang PON 2016, Jawa Barat (Jabar). Sebagai catatan pada PON 2012 di Riau DIJ hanya mengirimkan satu petinju yakni Samoel Hermanto. Pengprov Pertina DIJ tentu menginginkan wakil yang lebih banyak di PON 2016. (nes/din/ong)