Dipelajari Insan Seni, Diwujudkan dalam Tarian

MUNGKID – Relief-relief yang terpahat pada dinding Candi Borobudur, diagendakan untuk divisualisasikan. Jika memungkin-kan, relief-relief tersebut akan dihidupkan dalam bentuk ke senian-kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Magelang.
Untuk kepentingan itu, para seniman tradisional di Kabupaten Magelang sedang mempelajari relief-relief tersebut. Keberhasilan visualisasi relief sangat bergantung pada kreativitas para seniman itu sendiri.
Kepala Balai Konservasi Boro-budur (BKB) Marsis Sutopo men-gatakan, relief-relief di Candi Bo-robudur ada dua lantai yang ber-potensi digarap menjadi seni tari, yakni Karmawibangga dan Lalita Vistara. “Seniman bisa memilih relief Lalita Vistara Di relief ini ada tokoh dan alur cerita. Ceritanya tidak bisa di-bolak balik,” ujarnya.
Menurut Marsis, relief Karma-wibangga berisi hukum sebab akibat dan bersifat terbuka, tapi tidak punya tokoh. “Di sini ada karakter orang jahat, dan orang baik,” tandasnya.
Ketua Paguyuban Masyarakat Pencinta Seni dan Budaya Bo-robudur Sucoro menambahkan, keberadaan seni budaya lokal belum dapat memberi kontri-busi yang cukup bagi per-kembangan kepariwisataan Kabupaten Magelang.
“Relief Borobudur sangat mungkin menjadi sumber inspirasi karya seni pertunjukan. Ini sekaligus sebagai upaya pe-lestarian warisan budaya. Para pengunjung juga akan dapat mengenali warisan budaya yang utuh dan lengkap dengan nilai tradisi masyarakat sekitarnya,” tandas Sucoro.
Gagasan memvisualisasikan relief-relief di dinding Candi Borobudur, juga terungkap dalam workshop dan pelatihan seni tradisi dalam rangka Ruwat Rawat Borobudur 2015 di Aula Balai Desa Borobudur. Dalam kesempatan tersebut, mantan dosen ISI Solo Dr Wilis Rengganis mengatakan, makna yang terkandung dalam relief Candi Borobudur sangat me-mungkinkan dituangkan dalam bentuk tarian.
“Tarian tersebut kemudian bisa diintegrasikan ke dalam kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Magelang, seperti Dayakan, Jatilan, Campur, Angguk, Soreng dan lainnya,” katanya, kemarin.
Namun diakuinya, ada ke-lemahan di tingkat seniman tradisional. Di mana para seniman tradisional kurang memper-hatikan tata suara dan kore ografi, yakni ilmu menyusun garapan tarian.
“Selama ini, tata suara kurang diperhatikan. Harus diatur dan dicoba. Koreografi, karawitan atau iringannya, tata busana, dan kekompakannya,” ujarnya.
Wilis mengajak seniman tradisional untuk saling belajar dan saling memberi penge tahuan masing-masing.”Mari kita mengembangkan dan maju bersama. Koreografi diatur dan latihan menari secara rutin,” tuturnya. (dem/jko/ong)