ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
PELAYANAN: Aktivitas pelayanan pendaftaran gugatan di Pengadilan Agama Bantul. Tingkat perceraian di wilayah ini terus meningkat setiap tahun.

Dalam Sehari PA Sidangkan 50 Perkara Perceraian

BANTUL – Tingkat perceraian di Kabupaten Bantul tahun ini cukup memprihatinkan. Hingga 30 September angka cerai talak maupun cerai gugat sama-sama tinggi. Tetapi, jika dibandingkan persentase angka cerai gugat lebih tinggi. Artinya, istri yang lebih banyak mengajukan gugatan cerai daripada suami.Humas Pengadilan Agama (PA) Bantul Akhbarudin mencontohkan, pada bulan Januari ada 41 orang yang mengajukan permohonan cerai talak. Kemudian, yang mengajukan cerai gugat sebanyak 98 orang. “Dan tingkat perceraian melonjak tinggi setelah lebaran,” terang Akhbarudin di ruang kerjanya kemarin (5/11).
Pada Agustus, misalnya, sebanyak 48 orang mengajukan permohonan cerai talak. Ada pun isteri yang mengajukan gugatan cerai sebanyak 108 orang. Tren serupa juga terjadi pada September. “Pada September yang mengajukan gugat cerai ada 110. Lalu cerai talak 38,” ujarnya.Banyaknya warga yang mengajukan per-mohonan cerai talak maupun cerai gugat ini salah satunya berdampak pada jamaknya proses persidangan di PA Bantul. Dalam sehari PA dapat menggelar persidangan hingga 50 perkara perceraian. Dua ruang persidangan di PA dalam sehari masing-masing menggelar 25 proses persidangan.
Akhbarudin mengakui tingkat perceraian tahun ini mengalami peningkatan hingga 5 persen dibanding tahun lalu. “Untuk satu perkara dapat diselesaikan dalam waktu satu setengah bulan hingga tiga bulan. Itu tergantung tingkat kesulitannya,” ungkapnya.
Menurutnya, mayoritas pasangan suami-istri (pasutri) yang mengajukan perceraian adalah mereka yang masih dalam usia produktif. Yakni, kisaran usia belasan tahun hingga 30 tahun. Usut punya usut, saat proses mediasi di PA diketahui pasutri ter-sebut menikah karena terjepit keadaan. Tak sedikit, mereka terpaksa menikah karena sang perempuan hamil di luar nikah
Bahkan, ada pula kasus perceraian terjadi karena tujuan pernikahan dari awal memang sudah salah. Misalnya, seorang laki-laki diminta pihak orangtua sang perempuan untuk menikahi putrinya yang sudah hamil dengan diberikan kompensasi berupa uang. Tujuannya untuk menutup aib keluarga. Padahal, laki-laki tersebut bukanlah ayah biologis janin dalam kandungan. “Pengadilan juga memfasilitasi mediasi, tetapi yang berhasil rukun kembali sangat sedikit,” paparnya.
Dari proses mediasi diketahui pula suami tidak bertanggung jawab menjadi pemicu terbanyak perkara perceraian. Kemudian, faktor ekonomi, selingkuh, krisis akhlak, tak ada keharmonisan hingga kekerasan dalam rumah tangga menjadi penyebab lain adanya perceraian.Meski begitu, kata Akhbarudin, secara umum akar persoalan yang menjadi pemicu keretakan rumah tangga adalah faktor ekonomi. Sebab, lemahnya sektor ini bisa memicu dampak-dampak lain. “Pergaulan bebas, dan dekadensi moral belakangan ini memicu banyak yang menikah karena terpaksa dan belum siap,” tambahnya. (zam/din/ong)