SETIAKY/RADAR JOGJA
SETELAH 8 TAHUN: Inilah Candi Siwa yang telah resmi dibuka secara penuh untuk umum kemarin (5/11).

Setelah Rusak Terkena Gempa 2006

SLEMAN – Setelah menunggu delapan tahun, Candi Siwa yang merupakan bangunan utama di kawasan Taman Wisata Candi Prambanan kem-bali dibuka untuk umum kemarin (5/11). Candi itu ditutup selama delapan tahun karena mengalami keretakan cukup parah akibat dilanda gempa tek-tonik dahsyat 27 Mei 2006. Keretakan diperkirakan mencapai 60 persen dari seluruh bangunan candi. Sebagian besar pada ba-gian tubuh, dinding dan atap. Paling parah bagian ambang pintu ganesha yang mengalami patah
Pada 2012, meski masih tahap penelitian, Candi Siwa mulai dibuka untuk umum. Namun dibatasi hanya 50 orang per rom-bongan setiap kali masuk area candi. Itu pun pengunjung wa-jib mengenakan helm pengaman. Terkait pembukaan kembali candi ini, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Kacung Mari-jan PhD meminta pihak peng-elola melakukan kajian keamanan candi, sekaligus aspek keamanan dan kenyamanan pengunjung. Kacung minta PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko berkolaborasi dengan Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Jogjakarta.
“Daya tampung untuk sekali masuk itu berapa. Itu yang harus dikaji demi keamanan pengun-jung,” ujar Kacung, usai mem-buka simbolis Candi Siwa bagi pengunjung. Kacung bahkan menantang BPCB untuk mempercepat pe-mugaran Candi Perwara yang mengelilingi tiga candi utama: Siwa, Brahma, dan Wisnu. Re-konstruksi candi pengiring me-mang bukan hal mudah. Apal-agi jumlahnya mencapai 224 buah. Kendati begitu, Kacung optimistis pemugaran Candi Perwara bukan hal mustahil. Kacung mencontohkan kasus konsolidasi Candi Siwa yang butuh waktu tujuh tahun pene-litian. Untuk menemukan rumus dan resepnya tanpa harus dila-kukan pemugaran. Setelah mun-cul rumus, pengerjaannya hanya satu tahun. “Saya yakin ini ada ilmunya. Pasti bisa,” tandasnya.
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan, Harry Wi-dianto mengatakan, penelitian Candi Siwa menelan dana cukup besar. Selain APBN, pemerintah memperoleh bantuan 80 ribu dolar AS dari UNESCO. “Karena Candi Prambanan termasuk wa-risan dunia, kewajiban UNESCO membantu,” ujarnya.
Kepala Unit Taman Wisata Candi Prambanan Priyo San-toso menyambut positif dibu-kanya kembali Candi Siwa se-cara penuh. Itu akan berimbas positif pada peningkatan kun-jungan wisata di Prambanan. “Itu kan candi paling besar yang di dalamnya terdapat relief epos Ramayana. Itu menjadi daya tarik tersendiri,” ungkapnya. Priyo menegaskan, secara prin-sip pihaknya siap membantu pemerintah dalam menciptakan keamanan dan kenyamanan pengunjung Candi Prambanan.

Injeksi Filler Reversible

Penanganan keretakan tubuh, dinding, dan atap Candi Siwa dilakukan tanpa pemugaran total. Berdasarkan hasil peneli-tian, pondasi candi masih cukup stabil, seingga dianggap cukup dengan perkuatan pada struktur candi. Metode itulah yang dise-but konsolidasi.Butuh waktu tujuh tahun untuk penelitian dan pemugaran can-di penginggalan Kerajaan Hindu itu. Hingga pada 2013, para ar-keolog dunia merumuskan kon-solidasi candi dengan sistem injeksi. Pelibatan arkeolog dunia mengingat Candi Prambanan termasuk world heritage , yang dilindungi oleh UNESCO.
Injeksi atau penyuntikan meng-gunakan bahan pengisi (filler) mortar hoidrolik, yang terdiri atas campuran pasir, kapur, dan zeo-lit. Filler disuntikkan pada rongga-rongga retakan batu candi.
Konsolidasi Candi Siwa dilaks-anakan dua tahap. Sejak 19 Agustus – 16 September 2013, untuk menyelesaikan area kwadran I, yakni bagian tubuh. Dilanjutkan 3 Februari – 1 Sep-tember 2014 pada kwadran II, III, dan IV yang merupakan ba-gian dinding dan atap.Kasi Pelindungan, Peng-embangan, dan Pemanfaatan BPCB Jogjakarta Wahyu Astuti menjelaskan, kharakteristik Candi Siwa beda dengan lainnya, meski dalam satu kawasan. Di bagian utama puncak tertinggi terdapat 16 candi. Tiga candi utama, tiga wahana, dua apit, empat sudut, dan empat kelir (depan pintu masuk).
Menurut Wahyu, tim konsoli-dasi juga tak mungkin melakukan pembongkaran total (dismantling). Itu lantaran tatanan batu massif saling mengait satu sama lain. Selain itu, pada 1930-an, Candi Siwa pernah dipugar oleh pemerin-tah Belanda. Itu cukup menyulit-kan tim konsolidasi untuk menge-tahui bagian dalam batuan candi. “Ternyata dalamnya diisi semen. Intinya untuk menguatkan juga,” jelasnya. (yog/laz/ong)