grafis-narkoba

Posisi Strategis dan Jadi Miniatur Indonesia

JOGJA – Seiring berkembang-nya DIJ di sektor pariwisata, hal ini memiliki pengaruh kuat ter-hadap tingkat kejahatan penya-lahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). Bahkan, hampir seluruh wi-layah di DIJ masuk dalam cata-tan pihak berwenang kaitannya dalam peredaran narkoba.
Kepala Bidang Pemberantasan Badan Nasional Narkotika Pro-vinsi (BNNP) DIJ Siti Alfiah men-gatakan, Jogjakarta sebagai miniatur Indonesia menjadi prioritas pengedar narkotika. Apalagi dengan sektor pariwi-sata yang kian berkembang, didukung akses yang mudah untuk menjangkau wilayah ini. Praktis peredaran Narkotika menjadi semakin leluasa.
“Bisa dikatakan DIJ ini kan seba-gai miniatur Indonesia. Posisinya juga strategis, sehingga mudah di-gunakan sebagai jalur peredaran narkotika,” kata Siti kemarin
BNNP DIJ sendiri mencatat ba-hwa sebagian besar wilayah DIJ menjadi jalur distribusi narkotika. Mulai dari wilayah barat yakni Kulonprogo yang notabene wi-layah kedua dibanding Sleman dan Kota Jogja. Apalagi, Kulon-progo akan dibangun bandara internasional, praktis hal ini bisa berpengaruh terhadap tingkat peredaran barang haram ini. Kemudian bergeser ke timur. Sleman dan Kota Jogja yang menjadi barometer DIJ juga tak lepas dari peredaran narkotika. Di Sleman saja hampir meny-ebar, yakni di Kecamatan Depok, Kecamatan Ngaglik, Kecamatan Mlati, dan Kecamatan Gamping. Sedangkan Kota Jogja, kecen-derungan ada di Kecamatan Umbulharjo, Kecamatan Mer-gangsan, Kecamatan Gondoma-nan, dan Kecamatan Tegalrejo.
Lalu, di wilayah Kabupaten Bantul sendiri cukup menjadi sasaran empuk para pengedar narkotika. Kecenderungan di Kabupaten Bantul berada di Kecamatan Banguntapan, Sewon, dan Kasihan. Sedangkan di wi-layah Gunungkidul, lebih fokus pada satu titik yaitu di Kecama-tan Wonosari. “DIJ menjadi lokasi strategis, pariwisata, kota pelajar, dan pu-sat budaya. Sehingga hampir seluruh jenis narkoba ada di sini,” ujarnya
BNNP DIJ sendiri mencoba memetakan masuknya pereda-ran narkotika yang masuk di DIJ. Rata-rata, para pengedar ini mendapatkan barang dari Jawa Timur. Nah, dari wilayah timur pulau Jawa itu, lebih identik dengan jenis barang putaw dan sabu-sabu. Sementara jenis ganja, dipasok dari Nangroe Aceh Darussalam (NAD).
Posisi ibu kota negara juga tak lepas dari pasokan barang haram itu. Dari Jakarta sendiri rata-rata dipasok barang berupa ganja dan sabu-sabu. Bahkan, daerah terdekat DIJ yakni Mun-tilan, juga kerap memasok barang berupa ganja dan sabhu-sabhu. “Untuk luar negeri, misalnya dari Malaysia, juga menjadi pe-masok narkotika. Tugas kami me-mantau perjalanan pesawat, teru-tama dari Malaysia,” imbuhnya.
Dari pemantauan terhadap kedatangan turis melalui ban-dara, pihak BNNP DIJ juga per-nah menggagalkan praktik dist-ribusi narkotika. Misalnya saja terungkapnya warga Indonesia yang baru tiba dari Malasyia ditangkap karena membawa 1.047 gram heroin. Kemudian, wanita asal Tiong-kok yang membawa 9.976 butir ekstasi dan 4,2 gram sabu-sabu. Lalu warga Tiongkok juga keda-patan membawa 2.600 gram sabu-sabu. Serta wanita asal Philpina juga tertangkap mem-bawa heroin 2.611 gram, dan warga Vietnam dengan sabunya sebesar 1.316 gram.
Menyikapi hal ini, Ketua Ge-rakan Nasional Anti Narkoba (Granat) DIJ Ryan Nugroho se-pakat dengan pernyataan BNNP DIJ. Bahwa Jogjakarta sejauh ini masih menjadi primadona atau surga peredaran narkotika ber-bagai jenis. Tentu hal ini men-jadi tugas bersama untuk me-merangi narkotika sebagai pe-rusak generasi muda.
“DIJ masih menjadi sasaran empuk. Selain sebagai bukti le-mahnya pengawasan pihak ber-wenang dalam meminimalisasi peredaran narkoba di DIJ, juga belum terkoordinasi dan ter-padunya semua pihak,” kata Ryan. (fid/mar/laz/ong)