Ketimpangan DIJ Melebihi Angka Nasional

SLEMAN – Ketidakmerataan pembangunan di DIJ menyebab-kan ketimpangan yang semakin kentara. Angka ketimpangan di DIJ yang mencapai 0,43 dinilai cukup tinggi, sebab melebihi rata-rata nasional sebesar 0,41. Hal tersebut diungkapkan oleh ekonom asal UGM Prof Mudrajat Kuncoro, kemarin (5/11).
“Ada ketimpangan yang luar biasa antara daerah-daerah yang ada di DIJ. Terutama di pedesaan yang ada Gunungkidul dan Ku-lonprogo,” jelasnya ketika ditemui di Sheraton Mustika Hotel.Menurut Mudrajat ketimpangan yang terjadi di DIJ lebih disebab-kan pertumbuhan investasi hanya berpusat di dua wilayah yakni Sleman dan Jogja. Wilayah pem-beri sumbangan terbesar terhadap ekonomi DIJ masih dipegang oleh Sleman, Jogja dan Bantul. Baru kemudian disusul Kulonprogo dan Gunungkidul.
Guru Besar FEB UGM ini menje-laskan faktor pendorong para inves-tor memilih menanamkan investa-sinya di Sleman dan Jogja karena pusat-pusat pendidikan yang ada. Keberadaan universitas dan sekolah ternama dinilai salah satu faktor un-tuk mendirikan pusat usaha. “Bila ada pendidikan pastiada indekos, ada hotel, laundry dan berbagai usaha jasa lainnya. Maka ekonomi di wilayah tersebut ber-gerak cepat. Berbeda dengan Gunungkidul dan Kulonprogo yang masih mengandalkan pertanian, wisata dan usaha kecil,” jelasnya.
Agar ketimpangan antar daerah di DIJ tidak semakin besar, Mud-rajat mengusulkan agar dana keistimewaan (danais) yang di-terima oleh Pemerintah DIJ tidak hanya untuk pengembangan bu-daya saja. Ada porsi dari danais yang digunakan untuk pembe-nahan infrastruktur di DIJ.Bila pembenahan infrastruktur di DIJ tidak segera dilakukan, dia khawatir daerah pedesaan makin tertinggal dan ketimpangan akan semakin besar. “Sebab wisatawan dan investor akan berpikir hanya Jogja dan Sleman saja yang cocok untuk investasi,” katanya.
Menurut Mudrajat, Kulonprogo sebagai salah satu wilayah miskin di DIJ berpotensi sejajar dengan Sleman maupun Jogja. Itu apa-bila pembangunan infrastruktur bandara dan industri bijih besi bisa terealisasi. Hanya saja, ia mengingatkan kesejahteraan ma-syarakat lokal harus diperhatikan. “Jangan sampai investor besar-besar tidak memberikan efek apa-apa kepada masyarakat se-tempat. Ini tantangan bagi Peme-ritah DIJ dan Pemda Kulonprogo,” jelasnya. (bhn/ila/ong)