DEWI/RADAR JOGJA
SPA TRADISIONAL: GKR Hemas dan GKR Bendara saat peresmian Nurkadhatyan Spa Gandhok.Spa ini meng-adaptasi ritual perawatan kerajaan Jawa dan spa modern.

Lenging Bandawasa, antara Seni, Meditasi, dan Energi

Beberapa tahun terakhir, spa sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat. Terutama bagi mereka yang peduli akan kesehatan tubuh dan keseimbangan jiwa. Mengusung perawatan tubuh tradisional yang dilakukan oleh keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kelima putri keraton menghadirkan Nurkadhatyan Spa Gandhok.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
KEBUTUHAN masyarakat akan perawa-tan diri kini semakin tumbuh seiring kepe-dulian seseorang untuk menjaga kualitas dirinya. Tidak hanya soal kecantikan luar, karena spa sesungguhnya juga mampu me-nyeimbangkan kembali kesegaran jiwa, terutama dalam menghilangkan stres dan ketenangan pikiran.
Nurkadhatyan Spa Gandok, mengadap-tasi ritual perawatan kerajaan Jawa dan spa modern, dengan tetap menjunjung pakem ritual yang sama seperti yang dilakukan para putri Keraton Ngayogyakarta Hadi-ningrat
“Nurkadhatyan Spa lahir dari saya dan kakak-kakak, untuk memberikan pengalaman unik dan istimewa kepada masyara-kat seperti layaknya putri kera-ton,” ujar pemilik Nurkadhatyan Spa Gandhok GKR Bendara atau yang akrab disapa Jeng Reni (1/11).Sekitar dua tahun, Nurkadha-tyan Spa sudah lebih dulu diper-kenalkan bagi para tamu sebagai fasilitas in room hotel. Dengan menempati di Gandhok Ambar-rukmo atau yang berada di sisi timur Hotel Royal Ambarrukmo Jogjakarta, Nurkadhatyan Spa kini bisa menjangkau lebih luas. Tidak hanya tamu hotel, tetapi masyarakat luas yang ingin mela-kukan perawatan tubuh.
Di lokasi yang dulunya meru-pakan pesanggrahan keraton peninggalan Sri Sultan Hameng-ku Buwono VII ini, Nurkadha-tyan Spa menawarkan empat perawatan tubuh. Ritual tapak bandawasa (refleksiologi), pang-rutining rasa (pemijatan seluruh tubuh), ngenggar-enggar rasa (pemijatan Jawa kuno dengan ramuan pilihan scrub, seperti lulur, mangir, boreh dan parem) serta panca rasa manunggal (perawatan yang lahir dari put-ri-putri dalem Keraton Jogja-karta). Perawatannya, antara lain, pengruktining yuwana untuk mengatasi penuaan dini, yudas-maraning rasa untuk mening-katkan gairah, sumunaring sa-rira untuk mencerahkan kulit, paleremaning rasa untuk me-nenangkan dan panjurunging rasadaya untuk meningkatkan vitalitas.
“Konsepnya tetap selaras dengan tempatnya yang penuh dengan nilai histori, dengan ramuan yang semua natural dan alami,” ujar Jeng Reni.Master Spa Nurkadhatyan The Ritual Spa Worro H Astuti men-jelaskan, berbeda dengan tem-pat spa pada umumnya, Nur-kadhatyan Spa memfokuskan pada lenging bandawasa atau titik energi yang menjadi teknik pijat Jawa kuno.
“Terapisnya juga kita latih kem-bali, dengan menerapkan gerak seni tarian Jawa dalam melaku-kan teknik pemijatan di titik-titik energi (lenging bandawasa),” ujar Woro.Menurutnya, seni tarian Jawa ini juga merupakan meditasi gerak yang mampu membuat energi dan ketika disalurkan semakin terasa efek relaksasinya. Terapis tangan semakin luwes saat memijat, memijatnya juga menggunakan rasa. Sehingga aliran energi positif dapat ter-salur optimal.
Salah satu signature ritual yang dihadirkan yakni ritual kumkum di Sela Bandawasa. Tujuannya untuk membersihkan dan mengembalikan vitalitas tubuh. Sela Bandawasa sendiri merupa-kan bathtub batu alam alami seberat 4,4 ton yang berasal dari batu andesit Gunung Merapi.”Manfaatnya, batu andesit ini mampu menyerap partikel en-ergi negatif yang terdapat di dalam tubuh untuk memberikan efek bugar,” ujar Woro.
Semua rangkaian ritual dan varian pilihan ramuan yang ter-dapat di Nurkadhatyan Spa Gan-dhok merupakan bentuk peng-hargaan diri terhadap jiwa dan jasmani manusia yang selaras dengan alam. “Harapannya tentu mampu melahirkan en-ergi baru yang memberikan ketenangan, keseimbangan jiwa, raga dan sukma,” tambah Woro. (*/laz/ong)