FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
KASIH SAYANG : Ritual mengusap kepala anak yatim sekaligus memberikan santunan di Pondok Pesantren Darussalam, Plosogede, Ngluwar, Magelang.

Tradisi Sejak Zaman Nabi, Berharap Pahala Berlipat Ganda

Tibanya tanggal 10 Muharam pada Kalender Hijriyah seringkali dimaknai oleh Umat Islam dengan berpuasa. Beberapa masyarakat juga mengadakan ritual bersedekah atau mengusap kepala anak yatim . Seperti yang telah menjadi tradisi di Pondok Pesantren Darussalam, Desa Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang.
FRIETQI SURYAWAN, Magelang
RATUSAN warga melakukan tradisi mengusap kepala anak yatim dan kemudian memberikan santunan tersebut, pagi itu. Ritual yang sudah berlangsung sembilan tahun ini diwarnai isak tangis anak yatim maupun peserta ritual. Bahkan sejumlah nenek lanjut usia ikut prosesi demi bisa mendoakan 87 anak yatim.
Mereka duduk berjejer rapi di kursi plas-tik yang diletakkan di tengah jalan. Anak yatim laki-laki berada di sisi kiri, semen-tara anak perempuan ditempatkan di sisi kanan. Warga dari tiga desa yakni Desa Blongkeng dan Desa Plosogede, Kecamatan Ngluwar, serta Desa Sirahan Kecamatan Salam kemudian mengusap kepala dan mencium rambut mereka satu per satu.Sejumlah anak yatim tampak meneteskan air mata haru dan teringat orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Suara tah-lil, tahmid dan takbir yang diucapkan para santri Ponpes Darussalam menam-bah suasana haru.
Selepas mengusap, warga kemudian me-masukkan amplop ke dalam kotak amal yang disediakan panitia. Panitia tidak me-nentukan jumlah santunan, karena semua didasarkan keikhlasan masing-masing warga. Di akhir acara, santunan tersebut dihitung dan dibagikan seluruhnya kepada anak-anak yatim dari tiga desa.Salah satu panitia pengusapan dan penyan-tunan anak yatim Saiful Anam mengatakan tahun ini jumlah anak yatim yang di santuni sebanyak 87 anak dari tiga desa
Disebutkan, pengusapan hanya diikuti anak berusia 1-12 tahun. Adapun anak yatim di atas 12 tahun tidak ikut diusap, namun tetap diberikan santunan dari iuran pengurus dan donatur. “Hanya yang berusia di bawah 12 tahun yang ikut pengusapan. Seluruh dana yang didapat di-berikan pada mereka untuk membiayai pendidikannya,” kata Saiful Anam, kemarin.Menurut Anam, panggilan akrabnya, anak yatim terkecil berusia satu tahun atas nama Eliska Putri Nabila. Warga Dusun Jatisari, Desa Blongkeng tersebut menjadi yatim setelah ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas.
“Kami meneruskan tradisi yang sudah ada sejak zaman nabi. Menurut kepercayaan, barang siapa mengusap dan memberi-kan santunan kepada anak yatim di tanggal 10 Muharom, akan mendapatkan pahala, bahkan dibalas berlipat ganda,” tuturnya.Pengasuh Ponpes Darussalam Kyai Rohmad berharap uang san-tunan ini bisa digunakan untuk membiayai pendidikan mereka. Ia tidak ingin ada anak yatim pu-tus sekolah dan putus dalam mengaji karena ketiadaan biaya. “Uang santunan ini bisa di-gunakan untuk keperluan seha-ri-hari dan membiayai pendi-dikan mereka,” tegasnya.
Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin mengajak umat Islam un-tuk menjadikan 10 Muharam sebagai Hari Kasih Sayang. Ka-rena banyak peristiwa besar yang terjadi pada tanggal tersebut, di antaranya diterimanya taubat Nabi Adam, kemudian dibebas-kannya Nabi Ibrahim serta Nabi Yunus keluar dari mulut ikan paus. Untuk itu, ia mengajak umat Islam untuk merayakan Hari Kasih Sayang dengan mencintai dan menyangi yatim piatu dan anak-anak duafa. “Bulan Mu-haram merupakan bulan yang sangat bersejarah bagi umat Islam. Ayo senangkan keluar-gamu dan santuni anak yatim. Ini Hari Kasih Sayang. Saya mengapresiasi warga Ngluwar yang memelopori acara ini. Ini menunjukkan kepedulian pada orang lain yang membutuhkan,” katanya usai menghadiri penyan-tunan anak yatim se-Kecamatan Ngluwar, Minggu (02/10) lalu.
Dalam kesempatan ini, Paguyuban Peduli Anak Yatim dan Dhuafa Ngluwar memberikan santunan sebesar Rp 25.800.000 untuk 208 anak yatim dan lima pondok pe-santren serta panti asuhan se-Kecamatan Ngluwar. (*/jho/ong)