HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
PRODUK LOKAL: Warga terlihat sedang memetik pucuk daun teh yang akan dikemas menjadi Teh Suroloyo yang merupakan produk asli dari Kulonprogo.

Belum Setahun Diproduksi, Nama Sudah Dipatenkan

Warga Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo terus mencoba berdikari dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki. Salah satunya dengan produk teh yang diberi nama Teh Suroloyo. Upaya kreatif itu digadang mampu mengorbitkan Samigaluh sebagai sentra penghasil teh berkualitas, sekaligus menggeliatkan sektor ekonomi warga setempat
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
DATARAN tinggi di Kecamatan Samigaluh tidak hanya menawarkan kesejukan dan panorama alam yang menawan. Namun juga sangat cocok untuk membudidayakan berbagai jenis komoditas perkebunan.Melalui kelompok usaha bersama (KUB) Menoreh Jaya Samigaluh, para petani teh di Samigaluh mencoba berbagi dengan PT Pagilaran. Dengan tetap menjaga simbiosis mutualisme, daun teh yang diproduksi dan dikirim ke PT Pagilaran sebagian dikemas sendiri oleh petani.
“Daun teh kami yang diolah PT Pagilaran sebagian diekspor. Sedangkan sebagian kami kemas sendiri menjadi Teh Suroloyo,” ujar Ketua KUB Menoreh Jaya Samigaluh Murtiono, baru-baru ini (4/11).
Murtiono menjelaskan Teh Suroloyo baru diproduksi mulai tahun 2014 ini. Awalnya, teh Suroloyo ini sebagai pan-cingan semangat sekaligus menaikkan nama produksi teh dari Samigaluh. “Kami mencoba mengemas, tidak hanya memproduksi daun teh basah dan teh kering. Nama Teh Suroloyo dipilihkan oleh Bupati Hasto Wardoyo,” terangnya.
Petani teh semakin bergairah, ter-lebih pemkab Kulonprogo juga menaruh perhatian. Salah satunya membantu kelompok tani teh dengan gunting khusus untuk memanen pucuk daun teh. “Produksi teh satu hektare bisa mencapai lima sampai enam ton per bulan. Satu minggu bisa petik empat kali. Ini musim kemarau, besok musim penghujan bisa naik lagi produksinya,” terangnya.Teh Suroloyo dikemas cukup menarik dengan kemasan satu pack beratnya 90 gram. Varian dari Teh Suroloyo ini terdiri dari teh celup dan teh hijau. Produknya sudah Ini dipatenkan. Harganya Rp 3.500 per pack.
“Baru setahun ini, merek dipatenkan dari Kemenkumham dan untuk PIRT-nya dari Depkes. Kalau daun teh dijual ke PT Pagilaran Rp 1.000 dan subsidi dari pemkab Rp 250,” ungkapnya.Produksi teh di Samigaluh ada di beberapa titik. Dalam meningkatkan produksi kini petani juga mengembangkan teknik baru yang diberi nama teknik skiping atau pemerataan bidang petik. “Dengan teknik ini target yang dipatok oleh PT Pagilaran bisa tetap terpenuhi. Harga dari Pagilaran senidiri juga sudah mulai membaik,” ujarnya.
Salah satu petani teh, Nurhayati, 34, warga Tritis, Margosari, Samigaluh mengungkapkan teknik skiping sudah diterapkan. Diprediksi enam bulan kedepan sudah bisa dipetik. “Selain produksi tehnya lebih banyak, pucuk daun yang diambil juga lebih halus,” ucapnya.Warga lain, Suryono mengaku cukup menikmati Teh Suroloyo. Sebagai warga lokal ia mengaku bisa lebih menikmati Teh Suroloyo, karena secara langsung bisa melihat proses pemetikan dan pembuatannya setiap hari.
“Bagi saya teh ini rasanya luar biasa, pas sekali ramuannya. Terlebih diminum langsung di sini dengan udara sejuk, saya sangat menikmatinya. Rasanya khas, pahit sepet dan wanginya berbeda,” terangnya. (*/ila/ong)