GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SEPI: Pedagang zona kerajinan beraktivitas di tengah kondisi XT Square Jogjakarta yang kian sepi dari pengunjung, kemarin (5/11).

Dari 30 Stan di XT Square, Tinggal Empat yang Buka

JOGJA – Keluhan tentang sepinya XT Square tidak hanya dirasakan para pelaku UMKM yang membuka stan di sana. Dewan Kerajian Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Jogja bahkan mengaku mengalami kerugian hingga Rp 100 juta selama dua tahun mem-buka stan di XT Square.
“Keluhan tentang sepinya XT Square juga kami rasakan, Rugi sekitar Rp 100 juta selama dua tahun buka operasional,” ungkap Ketua Dekranasda Kota Jogja Tri Kirana Muslidatun kemarin (5/11).
Menurut pe-rempuan yang biasa disapa Ana ini, pada awal XT Square beroperasi, Dekranasda Kota Jogja membuka 30 stan, tetapi saat ini hanya tingga empat stan saja yang buka.
Salah satu penyebabnya karena pengelo-laan XT Square yang sudah tidak sesuai dengan konsep awalnya. XT Square yang mulanya dikonsep sebagai pasar kerajinan bagi pelaku UMKM di Kota Jogja, saat ini peruntukannya sudah tidak sesuai.
Pertunju-kan seni dan musik di XT Square, jelas dia, sudah lebih dominan dibandingkan sebagai pasar kerajinan.
“XT Square sekarang pengembanganya lebih ke ke seni, lebih banyak orang nyanyi, nongkrong atau pameran seniman,” ujar istri Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti ini.
Even-even besar yang diselenggarakan ternyata juga tidak berpengaruh kepada para pedagang kerajinan. Ana menilai ba-nyaknya even yang digelar di XT Square tidak sejalan dengan market XT Square. Untuk itu, ia berharap manajemen saat ini bisa mengembalikan XT Square sesuai dengan konsep awalnya.
Ana menambahkan sejak awal bentuk ge-dung XT Square sudah salah. Menurut dia, gedung yang ditempati para pedagang ke-rajinan saat ini tertutup. Sudah sejak lama dirinya mengusulkan supaya tembok di XT Square dirobohkan, sehingga stan penjua-lan pedagang bisa terlihat dari luar dan memudahkan akses pengunjung.
Selain itu sistem pemasaran di XT Square juga bisa dibenahai. Ana mencontohkan se-perti halnya di Pasar Ngasem.
“Meski lebih baru tapi di sana lebih laku, sekarang tinggal manajemenya sendiri menyesuaikan dengan visi-misi Pemkot,” ungkapnya. (pra/laz/ong)

Pemilik Kios Diminta Temui Manajemen

KERESAHAN para pedagang kerajinan di XT Square yang terancam disegel kiosnya terbukti. Sebanyak 35 kios pedagang kera-jinan, Selasa (4/11) ditempeli tulisan ‘Pe-milik Kios Harap Segera ke Kantor Mana-jemen’.
“Penyegelan sejak Selasa sore, beberapa kios yang masih buka baru disegel malam harinya setelah tutup,” ujar seorang pedagang XT Square Djito, kemarin (5/11). Kios pe-dagang yang disegel oleh manajemen XT Square sebanyak 35 kios.
Mereka merupa-kan pedagang yang belum melunasi tung-gakan sewa. Djito mengatakan meskipun sudah dise-gel dan diminta menghadap manajemen, para pedagang tetap akan berjualan se-perti biasa. Selain itu, para pemilik 35 kios tersebut juga diminta untuk bersama-sama jika mau menemui manajemen XT Square.
“Kami belum menghadap, masih menung-gu situasi, tapi kalau mau ke manajemen bareng-bareng. Kami sudah senasib seper-juangan, babat alas di XT Square sejak awal buka,” tegasnya. Dikonfirmasi terpisah, Direktur Opera-sional dan Pemasaran PD Jogjatama Visesha selaku pengelola XT Square Widihasto Wasana Putra mengakui hal itu. Tetapi di-rinya membantah jika dilakukan penyegelan.
“Tidak ada penyegelan, kami hanya me-minta pemilik kios menemui manejemen untuk melunasi tunggakan. Kalau tidak mau, kami imbau kembalikan kunci,” ujarnya.
Hasto menjelaskan, manajemen sebenar-nya sudah beberapa kali memberikan ke-ringanan kepada pedagang. Awalnya peda-gang diminta melunasi pada Agustus 2014, kemudian mundur pada September 2014 dan terakhir diberi batas waktu Oktober 2014.
“Jalan tengahnya, kami minta separuh tunggakan dibayar Oktober, sisanya dilu-nasi hingga Desember. Tapi tetap ada yang tidak setuju,” terangnya.
Menurut Hasto dalam pengelolaan peru-sahaan, jika uang sewa tidak dibayarkan dalam waktu lama dan berpotensi memba-hayakan cash flow perusahaan. Selain itu juga menimbulkan kecemburuan bagi para pedagang lain yang sudah melunasi.
Sementara terkait harapan beberapa pihak supaya mengembalikan konsep XT Square menjadi pasar seni dan kerajinan, Hasto mengatakan, pihaknya hanya mengikuti dinamika pasar.Di XT Square juga terdapat panggung pertunjukan indoor maupun outdoor. Terlebih dari 1,8 hektare luas XT Square, area komersil tidak lebih dari 50 persen. “Pasar lebih merespons hiburan dan kuliner, kami mengikuti dinamika pa-sar. ”
Selain itu konsep bangunan di XT Square dengan empat gedung terpisah, sulit untuk menyatukan. Agar bisa saling terhubung, manajemen sudah menyiapkan wahana-wahana baru. Seperti rencana pembukaan De Arca. “Nanti bisa dikonsep sebelum atau setelah berkunjung bisa dilewatkan ke pa-sar kerajinan,” terang Hasto. (pra/laz/ong)