GUNAWAN/RADAR JOGJA
SIMULASI: Regu penyelamat menggelar latihan evakuasi penyelamatan korban tenggelam di Sungai Oya, Bunder, Patuk. Latihan ini diikuti anggota SAR Gunungkidul dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), kemarin (6/11). Pelatihan penyelamatan ini dilakukan dalam rangka melatih kesiap-siagaan anggota untuk menghadapi bencana.

Latihan Penyelamatan Korban Tenggelam

WONOSARI – Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah rawan bencana seperti longsor, banjir dan angin ken-cang. Juga memiliki potensi laka laut yang besar dengan banyaknya pantai yang dimiliki. Hanya saja, jumlah personel regu penyelamat masih sangat sedikit.Minimnya jumlah petugas SAR diakui Kasi Logistik Badan Penang-gulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Sutaryono. Dia menjelas-kan jumlah anggota SAR di wilayahnya hanya 85 orang. Jumlah ini masih jauh dari harapan.
“Anggota SAR yang berjumlah 85 orang ini tersebar di sejumlah wilayah seperti kawasan pantai dan lainnya,” katanya disela kegiatan latihan evakuasi penyelamatan korban tenggelam di Sungai Oya, Bunder, Patuk dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), kemarin (6/11).Dia menjelaskan untuk merekrut anggota SAR tidak mudah, karena tidak bisa asal-asalan. Regu penyelamat harus memiliki kemampuan dan keberanian. Tidak kalah penting lagi, mereka jangan memikirkan upah lan-taran kerja mereka adalah sukarela.
“Jadi, menyikapi penambahan per-sonel regu penyelamat akan dikaji terlebih dahulu karena menyangkut juga kesiapan SDM (sumber daya manusia),” ujarnya.Taryono, sapaannya, mengakui wilayahnya kerap menjadi langganan korban laka laut baik di sungai maupun pantai. Maka sudah menjadi tanggung jawab BPBD untuk mengambil sejumlah langkah-langkah di tengah keterbatasan yang ada. “Di Gunungkidul ada banyak pantai yang belum memiliki tim SAR,” ungkapnya.
Di sepanjang pantai selatan, tidak semua lokasi memiliki tim SAR yang bertugas. Itu karena dari sisi jumlah, anggota SAR sangat terbatas. Hingga sekarang masih banyak pantai-pantai yang banyak dikunjungi wisatawan tetapi belum ada SAR. “Ini menjadi tantangan pemerintah Gunungkidul untuk segera menambah jumlah personel regu penyelamat,” ucapnya.
Idealnya, kata Taryono, jumlah personel tim SAR minimal setiap pantai dijaga oleh 25 orang karena mereka bertugas secara bergantian. Mereka bertugas secara begiliran sehingga membutuhkan personel yang cukup. “Namun faktanya hingga kini belum lokasi memiliki personel SAR,” bebernya.Sementara itu, Sekretaris Tim SAR Gunungkidul Surisdiyanto mengatakan pelatihan penyelamatan korban di Sungai Oya dilakukan dalam rangka melatih kesiap-siagaan anggota untuk menghadapi bencana. “Setiap waktu luang, kami selalu melakukan latihan agar terampil jika nanti menangani korban,” kata Surisdiyanto.
Menurutnya dalam kesempatan kali ini diperagakan bagaimana anggota SAR menyelamatkan korban dalam situasi panik. Digambarkan, korban tenggelam berteriak dan berontak. Dalam situasi demikian, regu penyelamat harus cermat. “Kalau salah penanganan, bukannya menolong malah ikut jadi korban,” ujarnya.Surisdiyanto menjelaskan ketika menghadapi situasi korban panik, tim SAR hendaknya mengambil posisi di belakang korban. Jangan sampai korban dibiarkan merangkul karena regu penolong bisa ikut tenggelam. (gun/ila/ong)