YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
AMANAT: Bupati Sleman Sri Purnomo menyerahkan surat keputusan pengukuhan Asosiasi Sentra Bambu Sembada kepada ketuanya Eko Wury.

Bukti Keseriusan Pemkab untuk Sejahterakan Petani

SLEMAN- Pemkab Sleman mewujudkan komitmen dalam pengembangan tanaman bambu dengan mengukuhkan Asosiasi Sentra Bambu Sembada kemarin (6/11). Pengukuhan dilakukan Bupati Sri Purnomo (SP) di Gedung UC UGM.SP mengatakan, asosiasi tersebut menjadi wadah bagi para pelaku usaha yang memanfaatkan tanaman serumpun itu sebagai bahan baku mulai dari hulu sampai hilir. Atau dari petani penanam hingga perajin produk bambu, berikut pelaku pasarnya. Selain itu bukan hanya budidaya bambu yang di-tingkatkan. Tetapi juga produksi hasil olahannya. “Outcome-nya, tentu saja untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar SP.
SP mengklaim, potensi bambu di Sleman masih sangat lebar. Apalagi, bambu merupakan tanaman yang mudah ditanam, murah, dan bisa diolah menjadi aneka produk bernilai ekonomis. Bambu mulai menjadi pilihan utama seiring mahalnya kayu akibat menipisnya lahan hutan. Di sisi lain, bambu berperan penting dalam konservasi air dan kawasan sungai. Itulah yang menjadi tujuan utama pemkab serius ingin menjadikan bambu sebagai objek potensi terbarukan.
Saat ini, pemkab telah menetapkan bambu sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan melalui SK Bupati Sleman Nomor 306/Kep.KDH/A/2013. “Sudah saatnya bambu dikembangkan dengan penanganan optimal,” tegas SP. Dengan pengelolaan yang baik, SP optimistis, bambu memiliki nilai tambah ekonomi produk tinggi, bermanfaat bagi pening-katan kesejahteraan petani dan perajin bambu.
Komitmen lain yang telah di-galakkan berupa pengembangan area tanam bambu. Pada 2013, pemkab membuka lahan 30 hektare. Tahun ini diperluas. Alokasi 2014 hampir dua kali lipat dari sebelumnya, yakni 55 hektare. Alokasinya meng-gunakan dana APBN dan APBD Sleman.Keberadaan asosiasi diharap-kan mampu mendukung keber-adaan sekitar 1.759 unit usaha pengelola bambu, yang selama ini mengambil bahan baku dari luar Sleman.
SP berharap, para perajin kedepan bukan hanya berpikir mencari keuntungan. Tapi berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan petani. “Nah, asosiasi inilah yang diharapkan berkontribusi untuk itu menyejahterakan petani bambu,” ujar SP.
Asosiasi juga berperan menjadi partner pemerintah dalam mewu-judkan komitmen bersama terse-but. Keberadaan asosiasi gayung bersambut dengan program Kementerian Kehutanan RI. Usai dikukuhkan, asosiasi memperoleh bantuan 5 alat pengawat bambu dari Ditjen Bina Pengelolaan Dae-rah Aliran Sunagai dan Perhutanan Sosial (BPDASPS) Kemenhut.
Bantuan diserahkan di sela seminar nasional tentang hasil hutan non kayu, yang diikuti 300 perserta. Mereka terdiri dari akademisi, pengusaha, pemerhati bambu, dan petani.
Dirjen kBPDASPS Dr Ir Hilman Nugroho MP mengatakan, inovasi membuat produk kerajinan adalah hal penting yang harus dikede-pankan. Namun, tetap harus mem-perhatikan mutu dan kualitas bibit dalam budidaya tanaman bambu. “Yang lebih penting lagi adalah pemasaran produk tersebut,” ingatnya. (yog/din/ong)