Maskot Menilai Ada Kesalahan Kolektif antara Rekanan dan Eksekutif

MAGELANG – Kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kota Magelang meminta agar ada ke-jelasan dan kepastian soal pem-bangunan Pasar Stres. Karena, kegiatan di bawah Dinas Pe nge-lolaan Pasar (DPP) Kota Magelang tersebut sudah dilelang dan me-munculkan nama pemenang, yakni CV Baja Persada. Apalagi, ke lanjutan pembangunan pasar yang terbakar pada Januari 2013 benar-benar dibutuhkan masyarakat.
“Proyek tersebut sudah dilelang. Sudah ada pemenang. Kenapa tidak segera dilaksanakan. Ini kan aneh,” kritik Koordinator Masya rakat Perkotaan (Maskot) Suharto ke-marin (6/11).Pria yang tinggal di Karanggading, Rejowinangun Selatan ini me ngaku, pernah mendengar selentingan menyangkut proyek tersebut.
“Infonya, proyek tersebut ada masalah dalam soal peren canaan. Bagaimanapun juga itu sudah dilelang. Harusnya kalau ada persoalan, itu ditanyakan saat aanwijzing. Lha kalau sudah be-rani menawar dan tidak ada per-soalan dalam aanwijzing, ber arti sudah paham dan tidak ada masalah lagi. Itu logikanya lho,” sergahnya
Suharto yang pernah melapor-kan Wali Kota Sigit Widyo nindito soal dugaan pemalsuan dokumen negara soal pembentukan Lembaga Informasi Publik me-lihat masalah pembangunan Pasar Stres adalah fenomena gunung es proyek di Kota Ma-gelang. “Dari kasus ini ada kesalahan kolektif. Sisi pemborong atau rekanan kalau sampai tidak melaksanakan, artinya tidak mempunyai komitmen atas apa yang telah dilakukan. Sisi pe-rencana, kalau sampai salah dalam perencanannya, berarti pekerjaannya asal-asalan. Pihak teknis dari Pemkot Magelang juga ikut salah, tidak cermat mengkoreksi pekerjaan pe-rencanaan,” paparnya.
Lelaki yang aktif di KNPI Kota Magelang ini berharap semua pihak belajar dari kasus ini. Ha-rapannya, dikemudian hari ada perbaikan dan tidak terulang lagi. “Tapi semua ya harus ada punishment. Bagaimanapun juga, proyek tersebut me nyangkut uang negara. Baik dari proses perencanaan hingga pele-langannya,” tegas pria berkaca mata tersebut.
Sebelumnya, masyarakat ber-harap persoalan pembangunan Pasar Stres tidak ditunda. Karena pembangunan pasar yang ter-bakar pada Januari 2013 me-rupakan sesuatu yang harus segera dilaksanakan. Mengingat pembangunan pasar untuk pe-dagang klitikan sempat ter tunda-tunda karena alasan anggaran. “Saat terbakar dulu, APBD 2013 sudah ditetapkan. Kemudian saat akan dimasukkan ke APBD Perubahan 2013 dengan per-timbangan waktunya mepet, sehingga diputuskan masuk APBD Penetapan 2014. Lha kok hingga sekarang belum juga dibangun-bangun. Ini ada apa,” kata Mantan Anggota Komisi C DPRD Kota Magelang Sriyanto.
Pasar Stres dilelang sejak September lalu dan dimenangkan CV Baja Persada dengan nilai penawaran Rp 514,283 juta dari pagu Rp 565 juta. Hal ini sesuai janji Pemkot Magelang, pada Tahun Anggaran 2014 akan me-realisasi pembangunan pasar tersebut. Gambaran dalam DED, pembangunan menggunakan lokasi pasar yang sekarang dengan tambahan dua lantai dan ka-pasitasnya mencapai 200 kios.
Kabag Humas Protokol dan Santel Kota Magelang Sutomo Hariyanto memaparkan, rencana kontruksi lantai satu dibuat 104 kios dengan ukuran 1,5 X 1,65 meter, lantai dua dibuat 96 kios dengan ukuran 1,5 X 1,5 meter sejumlah 80 buah, dan kios 1,5 X 2 meter sejumlah 16 buah. “Total ada 200 kios. Beda dengan sebelum terbakar yang kapa-sitasnya hanya 112 kios,” kata-nya saat itu.Faktanya, hingga November, proyek Pasar Stres belum dilak-sanakan. Ini juga terjadi di beberapa proyek lain di Kota Magelang.
Dalam data Rapat Pengen dalian Operasional Kegiatan (POK) pada Rabu (29/10), ada 14 pro yek yang belum atau tidak bisa dilaksanakan. Di antaranya, pembangunan BLK, pem buatan air mancur di Alun-alun, pembangunan Pasar Stres, pembuatan sidatan di Jalan Sudirman atau depan Artos Mal, dan lainnya. (dem/hes/ong)