ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
BUAH KEULETAN: Sumaryadi bersama istrinya di rumahnya. Salah seorang karyawan sedang melakukan proses pembuatan blangkon.

Eksis setelah Penetapan Keistimewaan dan Penjualan Online

Sebagai pelengkap busana tradisional, blangkon masih banyak dikenakan. Itu termasuk berbagai acara, serta kewajiban memakai busana tradisional bagi pelajar dan pegawai. Imbasnya, para perajin blangkon mendapatkan dampak positifnya.
ZAKKI MUBAROK, Pajangan
SIAPA yang tidak tahu blangkon? Hampir seluruh masyarakat Jawa pasti mengetahui penutup kepala khas peninggalan kerajaan Jawa ini. Atau bahkan mungkin pernah me-makainya.Tetapi, siapa sangka usaha pembuatan blangkon di Jogjakarta dulu sempat kembang kempis. Mayoritas itu usaha pembuatan blangkon ini hanya untuk menyuplai para penjual aksesoris khas di berbagai tempat wisata. “Dulu yang mengambil para peda-gang yang berjualan di Borobudur, Pantai Ayah dan beberapa objek wisata lain,” ucap Sumaryadi.
Pria asal Pedusunan Kentolan Kidul, Guwasari, Pajangan ini cukup mengetahui perkembangan usaha pembuatan blang-kon di Jogjakarta. Maklum, dia pernah ikut bekerja pada salah satu perajin blang-kon di kawasan Bugisan dalam kurun waktu cukup lama. Sebelum akhirnya pada tahun 2.000 bapak dua anak ini memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri
Yadi, begitu dia akrab disapa bersama dengan istrinya bernama Nur Jannah bahu-membahu mendirikan usaha pembuatan blangkon. Meskipun dia juga tahu persis kondisi penjualan blangkon di pasaran tak begitu signifikan.Tak hanya itu, mencari tenaga kerja ban-tuan untuk membuat blangkon pada awal-awal tahun 2000 juga bukan perkara gampang. Tak banyak masyarakat sekitar yang mempunyai ketrampilan membuat blangkon.
Seiring waktu berjalan, kesabaran Yad ber-buah besar. Banyak pesanan blangkon sejak muncul wacana pembahasan undang-undang tentang Keistimewaan DIJ. “Selain para pe-dagang di objek wisata, kelompok-kelompok kesenian dan instansi pemerintah banyak yang memesan,” sebutnya.Karena itu, Yadi pun banyak bersyukur dengan status keistimewaan DIJ. Sebab, pakaian khas jawa berikut blangkon kian popular karena banyak pemakainya sebagai salah satu ciri keistimewaan. Apalagi, pada bulan Oktober lalu Jogjakarta juga ditetap-kan sebagai kota batik dunia oleh Dewan Kerajinan Dunia. (*/din/ong)