HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
STUDI BANDING: Jajaran Pemkab Kulonprogo dan PT Angkasa Pura I saat melakukan pertemuan dengan PT Angkasa Pura II dan Pemkab Padang Pariaman dan tokoh masyarakat, di lantai III Bandara Intenasional Minangkabau.
PADANG – Manajemen PT Angkasa Pura (AP) I menilai pen-dekatan kultural yang dilakukan PT AP II dalam merealisasikan Bandara Internasional Minang-kabau (BIM) di Padang Pariaman, Sumatera Barat pantas dicoba. Khususnya dalam proses pem-bebasan lahan bandara New Jogjakarta Internasional Airport di Kecamatan Temon, Kulonprogo. Pernyataan itu disampaikan Direktur Kepesertaan dan Keu-angan PT AP I Aryadi Subagyo usai melakukan kunjungan kerja bersama Pemkab Kulon-progo ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang di-kelola oleh PT AP II di Padang Pariaman, kemarin (6/11).
Aryadi mengungkapkan pende-katan kultural yang dilakukan PT AP II dan Pemkab Padang Pariaman dalam proses pembebasan lahan dinilai efektif. Setidaknya seperti sosialisasi yang dilakukan, berhasil membuat warga percaya. Sekaligus membuktikan bahwa keberadaan bandara berdampak positif bagi warga sekitar. “Salah satu poin terpenting, ternyata dalam pembangunan BIM proses pembebasan lahan-nya melibatkan tokoh adat yang memiliki sebagian besar tanah,” ungkapnya.
Aryadi mengatakan pembangu-nan bandara di Temon bukan semata-mata untuk mencari ke-untungan. Lantaran kalau dilihat dari bisnis break even point (BEP) bandara baru yang berada di Temon baru akan tercapai setelah 17 tahun.Menurut Aryadi, dalam meng-adopsi pendekatan kultutal yang dilakukan AP II saat membebaskan lahan BIM, pihaknya akan meng-gandeng UGM. Khususnya saat melakukan pemetaan demografi serta psikografi masyarakat setempat.
Dalam kesempatan itu, hadir pula warga Talao Mundam, Nagari Ketaping, Batang Anai, Padang Pariaman Ramli Azar, 48. Azar men-jadi salah satu contoh warga yang awalnya menolak keberadaan BIM di wilayahnya. Namun mulai proses pembangunan hingga kini beroperasi ia dilibatkan, dan menda-pat kesempatan kerja lebih baik untuk masa depan keluarganya. “Dulu saya petani, dan pencari kayu bakar di lahan yang kini dijadikan bandara. Sekarang saya menjadi porter di BIM,” terang Azar. (tom/ila/ong)