DITOLAKNYA banding yang dilakukan PSS Sleman dan PSIS Semarang mendapat perhatian dari mantan anggota Komisi Ban-ding (Komding) PSSI Triyandi Mulkan. Sosok yang juga tokoh sepak bola DIJ ini tetap bersikukuh kalau keputusan Komisi Disiplin (Komdis) menggunakan Kode Disiplin 2014 sebagai acuan mem-berikan hukuman diskualifikasi bagi PSS tidak tepat.Menurut dia, sampai sekarang Kode Disiplin 2014 sama se-kali belum disosialisasikan maupun disahkan dalam Kon-gres PSSI. Karena hal itulah Kode Disiplin 2008 lah yang seharusnya digunakan Komdis. “Tapi Komding malah membe-narkannya dan menolak banding PSS dan PSIS. Menurut saya ini tidak tepat,” jelasnya.
Sebenarnya Komding juga men-jadi Kode Disiplin edisi 2008 sebagai acuan. Komding menilai berdasarkan pasan 127 Kode Disiplin, hukuman bagi PSS me-mang tidak bisa dibanding. Namun faktanya, di pasal tersebut ada enam sanksi yang tak dapat di-banding. Nah, diskualifikasi kompetisi tidak termasuk dida-lamnya. “Kan lagi ini ada keti-daktepatan dalam menafsirkan dasar hukum. Jelas kok di pasal 127 diskualifikasi tidak termasuk dalam hukuman yang tak dapat dibanding,” ungkap Andi- sa-paan akrab Triyandi Mulkan.
Andi menambahkan dirinya juga menunggu surat resmi dari Komding soal penolakan banding PSS. Nantinya surat tersebut juga akan ia pelajari untuk mem-berikan saran kepada PSS ter-kait langkah ke depan.Yang jelas, kata dia ditolaknya banding oleh Komding bukan akhir segala-galanya bagi PSS. Pasalnya berdasarkan pasal 149 Kode Disiplin, PSS masih bisa mengajukan Penin-jauan Kembali (PK) kepada Ketua Umum (Ketum) PSSI.
“Ya, jika Komding sudah me-nolak, langkah terakhir yang bisa ditempuh PSS adalah mela-kukan PK ke Ketum PSSI. Nanti-nya Ketum PSSI dapat membe-rikan hak prerogatifnya untuk menerima atau menolak PK,” tambahnya. (nes/din/ong)