RADAR JOGJA FILE
MENYESAL: Ekspresi salah seorang pemain PSS Sleman usai mencetak gol bunuh diri dalam laga melawan PSIS Semarang di Stadion Sasana Krida Kompleks AAU Minggu (26/10) lalu. Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan PSS Sleman 3-2.
SLEMAN – Keinginan PSS Sleman melepaskan diri dari sanksi diskualifikasi akibat skan-dal sepak bola gajah melawan PSIS Semarang dipastikan kandas. Setelah menerima berkas banding dari manajemen Super Elang Jawa (Super Elja)Rabu Malam (5/11) Komisi Banding (Komding) PSSI langsung menggelar sidang.Sayang dalam sidang yang ter-golong singkat tersebut, PSS harus kecele. Ya, Komding memastikan menolak banding yang diajukan PSS maupun PSIS. Mereka men-gatakan kalau dasar hukum Ko-misi Disiplin untuk memberikan hukuman diskualifikasi serta me-nyatakan sanksi tersebut tidak bisa dibanding sudah tepat.
SLEMAN – Keinginan PSS Sleman melepaskan diri dari sanksi diskualifikasi akibat skan-dal sepak bola gajah melawan PSIS Semarang dipastikan kandas. Setelah menerima berkas banding dari manajemen Super Elang Jawa (Super Elja)Rabu Malam (5/11) Komisi Banding (Komding) PSSI langsung menggelar sidang.Sayang dalam sidang yang ter-golong singkat tersebut, PSS harus kecele. Ya, Komding memastikan menolak banding yang diajukan PSS maupun PSIS. Mereka men-gatakan kalau dasar hukum Ko-misi Disiplin untuk memberikan hukuman diskualifikasi serta me-nyatakan sanksi tersebut tidak bisa dibanding sudah tepat.
Ada pun pasal 69 yang diper-masalahkan kubu PSS sebagai dasar hukum melakukan dis-kualifikasi sudah tepat. Di edisi 2008 pasal 69 memang mengatur soal kewajiban pemain menja-lankan tes doping. Tetapi di edisi 2014 pasal ini berisi soal tingkah laku buruk. “Pada edisi baru tingkah laku buruk ini diatur pada 69 dan 64 kalau di edisi 2008 itu di pasal 71 dan 77,” tambahnya.
Penggunaan Kode Disiplin 2014 memang mendapat tentangan dari tokoh sepak bola DIJ dan Jateng. Sekretaris Asprov PSSI DIJ Dwi Irianto dan Ketua Umum (Ketum) Asprov PSSI Jawa Tengah (Jateng) Johar Lin Eng kompak mengatakan kalau kode di-siplin 2014 tidak dapat digunakan karena belum disahkan di Kon-gres PSSI, Selain itu Kode Disiplin 2014 juga sama sekali belum disosialisasikan ke klub-klub. “Jelas belum bisa di-gunakan itu kode disiplin 2014. Disahkan saja belum,” kata Mbah Putih (MP)-sapaan akrab Dwi- beberapa hari lalu.
Keputusan Komding ini juga memunculkan aroma tidak sedap. Ya, pasalnya banding Pusamania Borneo FC agar laga ulang me-reka kontra Persis Solo dibatalkan malah dikaji Komding. Ini tentu membuat kecurigaan adanya scenario mempromosikan me-reka ke Indonesian Super League (ISL) semakin kencang. Padahal keputusan Komdis agar PT Liga Indonesia (PT LI) segera menjadwal ulang laga tersebut dan menggelarnya di tempat ne-tral sangat layak. Sebab, tindakan Persis Solo yang memilih pulang dari Samarinda sebelum berlangs-ungnya laga disebabkan adanya intimidasi yang dilakukan oknum pendukung Borneo FC.
Pelaksana Tugas (PLt) Ketua Umum (Ketum) Slemania Lilik Yulianto mengatakan ini semakin membuktikan kalau memang ada scenario menaikkan Borneo FC ke kasta tertinggi. “Lihat saja PSS dan PSIS yang juga punya peluang naik ditolak bandingnya. Sedangkan Borneo FC malah diterima. Bisa jadi ini merupakan upaya memperlancar langkah Borneo FC ke ISL,” sebutnya.
Manajemen PSS belum mau menanggapi ditolaknya banding mereka oleh Komding. Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Supardjiono menyatakan dirinya memilih menunggu dulu surat resmi dari Komding. “Intinya saya belum bisa kasih tanggapan apalagi menentukan langkah ke depan. Tunggu dulu surat Komdis untuk kami pela-jari,” terangnya. (nes/din/ong)