HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
IKHTIAR BANDARA: Tim Pemkab Kulonprogo dan PT Angkasa Pura I saat menyerahkan cenderamata dalam studi banding bandara di Padang Pariaman (5/11).

BIM dan NYI A, Bedanya Hanya pada Status Lahan

Rencana pembangunan bandara di Kulonprogo sudah bulat. Sosialisasipun sudah rampung digelar. Sebagai ikhtiar untuk segera mewujudkan bandara yang diberi nama New Yogyakarta Internasional Airport (NYI A) itu, Pemkab Kulonprogo dan PT Angkasa Pura (AP) I mengadakan studi banding ke Padang Pariaman, sebagai daerah yang pernah punya proyek sama.
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
SEBUAH ikhtiar total dilakukan Pemkab Kulonprogo dan PT Angkasa Pura (AP) I untuk merealisasikan City Airport di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo. Mereka datang ke tanah Minang untuk menyecap pengalaman proses pembangunan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di sana, yang dulu juga sempat ditentang dan kini berbalik arah sangat dicintai warganya.
New Yogyakarta Internasional Airport (NYI A) yang rencananya akan dibangun di Kecamatan Temon, Kulonprogo adalah persembahan atau cendera mata dari PT Angkasa Pura (I) bagi Indonesia
“Saya ulangi, cendera mata untuk Indonesia, bukan hanya untuk Pemkab Kulonprogo atau DIJ, pasalnya NYI A merupakan City Airport bukan Airport City pada umumnya. Setelah selai dibangun, nantinya menjadi satu satunya di Indonesia,” kata Direktur Kepesertaan dan Ke-uangan PT AP I Aryadi Subagyo sepulang dari Padang Pariaman.Aryadi menyatakan, pihaknya akan berikhtiar secara paripur-na untuk mewujudkan mimpi besar ini. Upaya tersebut dila-kukan bukan semata mata men-cari keuntungan bagi AP I, tapi untuk kemaslahatan pelayanan bandara, termasuk warga di kawasan calon bandara.
“Sejak dipimpin Menteri BUMN yang dulu (Dahlan Iskan,red), kami, baik AP I maupun AP II memang diajak berpacu untuk berbuat atau bersaing positif. Dan sebagai saudara kadung atau kakak tertua dari AP II, kami ber-saing manis untuk kemajuan bangsa Indonesia,” ucapnya.Berkaca dari kunjungan yang telah dilakukan di BIM, secara histori hampir sama, dulu lahan yang dibebaskan merupakan tanah yang menjadi peng hidupan warga dengan bertani, mencari ikan dan berburu kayu bakar. Namun sekarang menjadi ban-dara internasional,pintu gerbang di Sumatra Barat.
“Yang beda dari BIM, tanah yang dibebaskan merupakan tanah wilayat atau tanah milik adat, di mana di situ ada tokoh sentral yang sangat berpengaruh, namun semua itu sebetulnya tidak menjadi perdebatan, ke-tika keberadaan BIM kini se-cara terang benderang terbukti mensejahterakan dan memacu pertumbuhan ekonomi ma-syarakat,” bebernya,Dijelaskan Aryadi, keluar dari ketokohan Wali Nagari Ketaping yang kini menjadi areal BIM, proses pembebasan lahan me-mang selalu disertai dengan gejolak, dan itu selalu digariskan alias pasti terjadi.
“Terkait itu, kami berharap Pemda Kulonprogo harus tetap tegas dan jelas. Progres per-kembangan setiap tahap bisa disampaikan ke media, sekaligus masyarakat, sehingga pemahaman secara gamblang bisa terbaca oleh warga, khususnya warga yang terdampak,” tegasnya.
Satu lagi yang bisa diambil dari langkah AP II, yakni program corporate social responsibility (CSR)-nya, “Untuk CSR, tidak bisa hanya mengakomodir ke-butuhan warga terdampak, tapi AP juga mengakomodir hobi masyarakat dan itu pantas di-aplikasi,” katanya.Lebih jauh, Aryadi menambahkan, kasus yang terjadi di Bandara Adu-sicupto Jogjakarta dan Bandara Tabing (Padang Mariaman) sama, yakni ada di tengah kota. Terlalu sempit dan tidak bisa berkembang maksimal, lokasi bandara juga sama dekat dengan pangkalan TNI AU, yang cukup sulit untuk dipoles dan dikembangkan.
“Kami berharap NYI A di Temon ini nanti bisa lebih cepat tereali-sasi dibanding BIM. Kalau terea-liasi, banyak peluang usaha yang bisa dikelola oleh warga setempat, tentunya dengan kometensi yang mereka miliki. Embarkasi Haji pastinya akan ada di Kulonprogo, karena pro yeksinya kesitu. Dan itu menjadi peluang besar bagi warga untuk mengembangkan usaha dalam bidang apapun,” imbuhnya.
Sosialisasi memang sudah sepantasnya gamblang, peran media sangat dibutuhkan untuk mencerahkan, agar warga bisa bepikir di titik yang paling jer-nih. Pendekatan kultural juga sangat dibutuhkan, dan hal itu segera dikomunikasi dengan direksi sekaligus menggandeng UGM yang sejak awal sudah dilibatkan untuk urun rembug dan pikiran. “Dalam waktu de-kat, paparan lengkap tentang bandara ini akan kami sampai-kan,” tandasnya
Adalah Marajo Datuk Sampo-erna, Wali Nagari Ketaping yang kini begitu ramai dan bernilai, ikut optimistis bahwa persoalan yang tengah dihadapi AP I dan Pemkab Kulonprogo dalam merealisasikan bandara inter-nasional pengganti Bandara Adisucipto di Jogjakarta sangat mungkin terjadi.
“Saya rasa tak ada beda, bahkan di sana ada Sultan (Raja) Jogja, tentu memiliki peran yang sangat setrategis dan sangat dihormati. Pengalaman saya, warga yang harus datang me-nemui saya, memiliki perasaan lain jika saya yang mendatangi mereka. Mereka lebih dimanu-siakan dan itu menjadi salah satu kunci pendekatan kul-tural yang saya lakukan,” saran-nya. (bersambung/jko/ong)