GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
TRADISI : Prosesi nguras enceh (gentong) di kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, kemarin (7/11). Prosesi yang dilakukan pada Jumat Kliwon setiap Suro. Nguras enceh dimaknai membuang perbuatan jelek dan menggantinya dengan kebaikan.
IMOGIRI – Pembacaan tahlil dan doa menandai mulainya tradisi nguras enceh atau mengganti air gentong di kompleks Makam Raja-Raja Imogiri kemarin (7/11). Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tradisi yang sudah mengakar ini selalu menyedot perhatian ribuan warga. Mereka sabar menunggu prosesi pengisian empat gentong yang terletak di depan pintu masuk makam. Lalu, mereka bere-but mengambil air baru dalam enceh karena diyakini dapat membawa ber-kah. Empat gentong yang berderet dari arah barat ke timur tersebut adalah Kyai Danumaya, Nyai Danumurti, Kyai Mendung, dan Nyai Siyem. Gentong Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti dari Kasultanan Ngayogyokarto, sedangkan Gentong Kyai Mendung dan Nyai Siyem dari Kasunanan Surakarta. “Prosesi pengurasannya sudah tadi malam (kemarin malam, Red),” terang Lurah Makam Raja-Raja Imogiri Jogo-waskito.
Air baru dalam gentong diambilkan dari tujuh mata air peninggalan Sultan Agung. Selain itu, juga dicampuri dengan Air Zam-Zam. Proses penggantian air diselenggarakan setiap Jumat Kliwon Bulan Sura. Uniknya, air dalam gentong tidak pernah habis meski diambil terus oleh para peziarah. “Dipercaya bisa me ngobati penyakit. Kamis (7/11) juga digelar kirab budaya ngarak siwur,” ujarnya.Hari Baskoro, seorang pengunjung asal Cirebon, Jawa Barat mengatakan, sengaja datang ke kompleks Makam Raja-Raja Imogiri untuk melihat secara langsung prosesi nguras enceh ini. Di samping itu, dia juga ingin mengambil air suci yang berasal dari gentong.
“Berharap para abdi dalem juga men-doakan para pengunjung,” ungkapnya.Pada tahun ini, abdi dalem juga me-nyediakan seribu takir untuk dibagikan kepada para pengunjung. (zam/din/ong)