FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BERSEMANGAT: Anggota TNI dan sipil bersatu padu mencabuti paku yang menancap pada pohon. Mereka mengikuti anjuran Gerakan Cabut Paku yang dilakukan gubernur Jateng.
MAGELANG – Gagasan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pronowo yang mengajak melakukan Gerakan Cabut Paku di pohon juga dilakukan di Kota Magelang. Hanya, yang merespons ajakan dari kalangan instansi dan pelajar. Sementara dari masyarakat atau warga rumahan tak banyak yang peduli. Setidaknya ini terlihat di beberapa jalan protokol di Kota Magelang. Para pelajar, pegawai negeri sipil dan kalangan militer beramai-ramai men-cabuti paku di pohon, kemarin pagi (7/11).
Siswa kelas X SMK Negeri 1 Kota Magelang Feri K mengaku, senang berpartisipasi dalam gerakan tersebut. Fery dan beberapa temannya terlihat serius mengelilingi sebuah pohon asam di Jalan Tidar Kota Magelang. Meski hanya menggunakan alat sederhana seperti tang dan catut, mereka bersemangat dan sekuat tenaga mencongkel paku-paku yang ada di pohon
“Iya nih agak susah. Pakunya besar-besar. Tapi sudah lumayan sudah dapat banyak ini,” ungkap Feri, sembari menunjukkan sekantong plastik paku.Adi, seorang PNS mengaku setuju dengan gerakan tersebut. Ia berharap lebih digalakkan lagi, tidak sekedar mencabut pakunya. Tetapi melakukan gerakan tidak “melukai” pohon saat memasang reklame atau tulisan. Alasannya, di beberapa jalan termasuk Jalan Tidar ada tulisan yang dipaku ke pohon.
“Itu tulisan Toilet di Pusat Kuliner Kartika Sari masih di-paku di pohon. Justru lebih me-rusak lingkungan. Selain me rusak pohon juga merusak pandangan,” papar Adi.Kegiatan ini berdasar edaran Gubernur Jateng pada instansi pemerintah. Karenanya, kegia-tan ini diikuti pelajar dan ratu-san anggota Polri, TNI, PNS, dan masyarakat umum. Ada lebih dari 1.296 pohon yang menjadi sasaran gerakan cabut paku ini. Sebagian besar pohon-pohon berada di sepanjang jalur utama. Mulai Jalan Pemuda, Sudirman, Ikhlas, Tidar, Tentara Pelajar, Pahlawan, dan Jalan A.Yani.
Plh Kabag Humas Kota Mage-lang Aris Wicaksono mengatakan, seluruh paku-paku yang ber hasil dicabut lantas dikumpulkan. Setelah ditimbang, ada sekitar delapan kilogram paku yang berhasil dicabut dari pohon. “Jumlah ini masih sedikit, karena masih banyak paku. Terutama yang besar dan menancap di atas batang pohon yang sulit dicabut. Nanti (paku) dikum-pulkan dan dilebur, ” papar Aris, usai kegiatan.
Menurutnya, tujuan gerakan ini mengajak masyarakat belajar melestarikan tanaman dan lingkungan. Harapannya, ma-syarakat tidak lagi sembarangan memasang beragam spanduk dan papan menggunakan paku di batang pohon yang sebetulnya bisa merusak pertumbuhan pohon. “Agar pohon tak jadi tempat pasang iklan. Tindakan itu sebenarnya mencederai pohon itu sendiri,” imbuh Aris.
Mengantispasi tindakan serupa, pemkot berupaya memasang papan imbauan di sejumlah titik. Agar masyarakat tak me-masang iklan dengan cara me-maku pohon. Aris mengakui, cara tersebut belum cukup efek-tif, karena tak ada payung hukum yang melandasi larangan ter-sebut. “Kami pasang beberapa papan imbauan itu. Tetapi belum ada sanksi tegas yang bisa di-terapkan pada oknum yang me-langgar larangan itu,” katanya. (dem/hes/ong)