MILITAN : Seperti inilah bentuk dukungan maksimal para suporter PSS Sleman saat memberikan dukungan kepada tim kesayangannya bertanding di Maguwoharjo International Stadium (MIS).

Perjuangan dan Dukungan Suporter Menjadi Sia-Sia

SLEMAN – Ditolaknya banding hukuman diskualifikasi yang diajukan PSS Sleman dan PSIS Semarang membuat kedua tim ini wajib memupus harapan tampil di se-mifinal Divisi Utama 2014. Ya, skandal sepak bola gajah yang meli-batkan kedua tim ini kala bentrok dalam laga terakhir babak Delapan Besar Divisi Utama 2014 di Stadion Sasana Krida Aka-demi Angkatan Udara (AAU) akhir Novem-ber lalu telah merusak semuanya.Hal ini tentu sangat menyakitkan para pecinta PSS. Sebab inilah sebenarnta saat yang tepat bagi PSS untuk promosi ke In-donesian Super League (ISL). Berbekal grafik yang terus menanjak sejak babak 16 besar Super Elang Jawa (Super Elja) seha-rusnya dapat mengakhiri musim ini dengan manis.
Pelaksana Tugas (PLt) Ketua Umum (Ke-tum) Slemania Lilik Yulianto mengatakan, manajemen harus bertanggungjawab atas hal ini. Memang, manajemen belum tentu bersalah dalam skandal sepak bola gajah ini. Sebab, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI saja belum menunjuk person-person yang menjadi pelaku utama “perlombaan gol bunuh diri” di AAU itu.Namun, seharusnya manajemen bisa mencegah terjadinya hal ini. Seandainya sejak awal tidak memiliki rasa takut ber-hadapan dengan Pusamania Borneo FC, mungkin sepak bola gajah tidak akan ter-jadi. “Ya, tentunya yang harus bertang-gungjawab adalah manajemen PSS. Sebab, mereka harusnya mampu untuk mencegah kejadian memalukan tersebut,” paparnya.Lilik mengatakan, dengan resmi terdis-kualifikasinya PSS membuat pekerjaan manajemen dan du-kungan penuh dari suporter jadi sia-sia. Manajemen sudah berinvestasi miliaran rupiah demi usaha menaikkan Super Elja ke kasta tertinggi.
Tetapi bagi Lilik suporter menjadi pihak yang paling menderita. Di setiap pertan-dingan kandang, para pecinta PSS mengelu-arkan juga mengeluarkan uang demi me-nyaksikkan Anang Hadi dkk berlaga. Bukan hanya untuk tiket tapi juga untuk biaya operasional lain seperti bensin, minum dll. “Dalam satu pertandingan suporter bisa mengeluarkan uang seminim-minimnya lebih dari Rp 50 ribu. Ingat tidak semua suporter atau pecinta PSS memiliki ke-kuatan ekonomi mumpuni. Banyak yang harus menabung dulu hanya untuk sekedar nonton PSS. Namun semua itu menjadi sia-sia,” tegasnya.
Namun, berdasarkan Kode Disiplin PSSI pasal 149, PSS masih bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK) kepada Ketua Umum (Ketum) PSSI. Hanya saja upaya PSS menggunakan pasal ini bisa terbentur poin pada ayat 3. Pada ayat itu menyatakan klub bisa mengajukan PK jika jenis huku-mannya didegradasikan ke Divisi yang lebih bawah.Meskipun begitu, Lilik menyatakan ma-najemen harus menempuh seluruh cara agar hukuman diskualifikasi dicabut. “Apa pun itu semua daya dan upaya pastinya harus dilakukan,” ucapnya.
Soal peluang pengajuan PK, Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Supardjiono mengatakan yakin pihaknya dapat melakukannya. Namun untuk hal tersebut PSS belum mengambil langkah karena masih menunggu Surat Keputusan (SK) dari Komding PSSI. “Sampai saat ini (ke-marin, Red) SK dari Komding belum terbit. Tunggu dulu saja lah,” pintanya. (nes/din/ong)