SLEMAN – Meski dalam pelak-sanaan program kredit usaha rakyat (KUR) masih ditemui masalah, pemerintah berencana memperpanjang program tersebut. Di sisi lain, program bantuan kredit tersebut akan berakhir pada 31 Desember tahun ini.Masalah lapangan yang sering ditemui dalam penyaluran kredit KUR terjadi di sektor hulu maupun hilir. Di sektor hulu persoalan yang muncul terkait dengan suku bunga tinggi, agunan tam-bahan, kriteria calon penerima KUR yang tepat sasaran, NPL hingga proses pendampingan. Di hilir, masalah yang muncul seperti proses klaim, alokasi kredit hingga verifikasi atas tagihan.
Asisten Debuti Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Kemenko Perekonomian Djoko Waluyo menjelaskan meski akan berakhir dan menemui sejumlah masalah, program ini masih tetap dilan-jutkan. Program KUR sangat bermanfaat sebagai jaring peng-aman usaha dimasa krisis.
“Hanya skemanya saja yang akan diubah. Rencananya KUR difokuskan pada sektor prioritas dan usaha mikro atau KUR Mikro,” kata Djoko kepada wartawan di Jogja Plaza Hotel, kemarin (7/11).
Bagaimana teknis pelaksanaan-nya? Djoko sendiri masih enggan memaparkan. Hanya saja, skema baru tersebutmeningkatkan layanan keuangan bagi usaha mikro. Disinggung sebaran re-gional penyaluran KUR, Djoko memaparkan selama Januari hingga September 2014 untuk Jawa Tengah sebesar Rp 5,33 triliun atau 17,9 persen, Jawa Timur sebesar Rp 4,79 triliun atau 16,1 persen dan Jawa Barat sebesar Rp 4,10 triliun atau 13,8 persen.
Sedangkan penyaluran KUR sendiri sejak Januari hingga September 2014 mencapai Rp 29,7 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 1,87 Juta. “Rata-rata NPL sebesar 4,2 persen atau masih di bawah ketentuan Bank Indonesia sebesar 5.0 persen,” terangnya.Djoko mengungkapkan dari jutaan jumlah usaha mikro kecil dan me-nengah (UMKM) di Indonesia baru sebanyak 4.400 atau 0,01 persen usaha yang layak go public. Sedang-kan yang berkembang menjadi unit usaha besar sebanyak 4.950 unit.
“Sebanyak 4.400 unit UMKM naik peringkat dari usaha menengah ke usaha besar. Sisanya, sebanyak 39.850 unit UMKM masih stagnan di kelas menengah,” terangnya.Terpisah, Pimpinan Wilayah BRI Jogjakarta Muhammad Ali sebe-lumnya mengungkapkan,di BRI sendiri kenaikan penyerapan KUR diikuti dengan penambahan na-sabah KUR. Bila pada Desember tahun lalu sebanyak 3377 nasabah tahun ini meningkat sebanyak 359 debitur. Terjadi peningkatan NPL pada KUR Juli 2014 sebesar 2,15 persen. Sedangkan KUR yang telah disalurkan sebesar Rp 3,7 triliun. (bhn/ila/ong)