HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
PAHLAWAN:Pemasangan bambu runcing dan bendera merah putih di pusara H Soeminto BA sosok pembela Tri Komando Rakyat (Trikora) asal Purworejo di Desa Condongsari, Banyuurip.
PURWOREJO – H Soeminto BA merupakan sosok pembela Tri Komando Rakyat (Trikora) asal Purworejo. Pahlawan yang ikut mem-pertahankan Irian Barat, sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini telah tiada. Sebagai bentuk penghormatan, Pemkab Purworejo memasang bambu runcing berbendera merah putih di atas pusaranya. Pemancangan bambu runcing dilakukan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Legiun Veteran RI (LVRI) Purworejo Mayor (Pur) Subagyo, di pemakaman Desa Condongsari, Banyuurip. Upacara pemancangan bambu runcing dihadiri keluarga, pengurus veteran, dan beberapa pejabat Pemkab Purworejo.
Subagyo menjelaskan, perjuangan Soeminto dimulai pada usianya yang masih muda. Yaitu, pada usia 22 tahun. Soeminto ter-masuk sebagai pembela Trikora pada 1963. Berbekal peralatan perang seadanya, Soeminto terjun di medan perang dalam operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. “Beliau merupakan pejuang yang ikut memiliki andil besar dalam pembebasan Irian Barat. Pemancangan bambu runcing berbendera merah putih ini merupakan penghargaan dari negara atas jasa almarhum dalam perjuangannya mempertahankan kedaulataan,” paparnya.
Dijelaskan, almarhum Soeminto sempat meneruskan sekolah di Akademi Pemerin-tahan Dalam Negeri (APDN). Almarhum merupakan lulusan angkatan pertama dan langsung mengabdikan dirinya untuk pembangunan Purworejo.Soeminto pernah menempati jabatan penting di pemkab. Yaitu, sebagai Camat Kaligesing, Camat Kutoarjo, Kabag Kesra, Kabag Pembangunan, dan Kepala Dispenda Purworejo sampai pensiun.
“Almarhum meninggal dunia pada usia 73 tahun. Ia meninggalkan seorang istri bernama Sumaryati, 70, empat orang anak, dan enam cucu,” katanya.Putra pertama Soeminto, Sukmo Widi Harwanto SH MM yang tak lain kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Purworejo memaparkan sepulang dari perjuangannya di Irian Barat, ayahnya memutuskan sekolah pendidikan di APDN. Ketika ditawari memilih masuk satuan militer atau sekolah. “Sebagai keluarga, kami memohonkan maaf pada semua pihak, bila semasa hidup almarhum dalam menjalin tali silaturahmi, ada yang kurang berkenan. Semoga almarhum diampuni kesalahannya dan diterima semua amal baiknya serta diterima di sisi Allah SWT,” katanya.
Di bagian lain, Subagyo menambahkan, terkait peraturan baru tentang veteran yaitu akan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran RI, para anggota LVRI akan menerima dana tunjangan dan uang kehormatan. Dana itu direncanakan mulai diterimakan pada Januari 2015.Selama ini, lanjut Subagyo, berdasar UU Nomor 7 Tahun 1967, anggota LVRI yang menerima dana tunjangan dan uang kehormatan, hanyalah mereka yang tidak menerima pensiun baik sebagai PNS maupun militer. (tom/hes/ong)