KULONPROGO – Novi Astuti, 6, satu dari empat korban yang di-duga keracunan tempe mendoan meninggal dunia, Kamis (6/11) sore. Ia menyerah dan dijemput ajal kendati telah menjalani pera-watan intensif di RSUD Wates, Kulonprogo sejak Selasa (4/11).Jenazah Novi telah dimakam-kan di Pedukuhan Tirto, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, kemarin (7/11). Seperti diwartakan sebelumnya, korban bersama ibunya, Rubini, 36, dan dua ka-kaknya Septini, 12, serta Vita Sari, 8, merasakan pusing dan mual setelah menyantap tempe mendoan.
Diduga, tepung terigu yang digunakan untuk membalur tempe mendoan telah kedaluwarsa dan tak layak konsumsi. Terlebih tepung terigu pemberian tetangga itu warnanya berubah menjadi kehitaman setelah digoreng.Novi memang menjadi korban yang paling kronis. Bahkan selama perawatan di ruang ICU RSUD Wates tidak pernah lepas dari alat bantu pernapasan. Sementara sang ibu, kondisinya relatif lebih baik dan kini masih menjalani perawatan di bangsal Edelweis RSUD setempat.
“Korban Novi meninggal pukul 21.30. Sejak pertama masuk ke ICU ia tak kunjung bangun dari koma kendati sempat bebas dari kejang. Pihak rumah sakit dan keluarga sudah berusaha maksimal, mungkin sudah ke-hendak-Nya,” ucap Kepala Ruang ICU RSUD Wates Tarhibul Fuadi, kemarin.Sementara dua kakak almar-humah Novi lebih beruntung, Septini dan Vita Sari sudah mem-baik, Jumat (7/11) siang sudah dipindahkan ke bangsal Cem-paka. Keduanya juga sudah bisa berkomunikasi, makan dan berhenti muntah, walaupun masih mengeluh pusing ketika hendak duduk
“Tinggal proses penyembuhan, dua tiga hari lagi Insyallah sudah bisa pulang rawat jalan. Kondisi ibunya, Rubini, yang dirawat di Bangsal Edelweis juga sudah membaik dan sudah diperbo-lehkan pulang,” terang Fuadi.Terpisah, Kasi Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo Baning Rahayujati menyatakan keempat korban diduga memang mengalami keracunan tempe mendoan yang tepung terigunya sudah lama. Kendati demikian pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel yang dikirimkan ke Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Jogjakarta. Sampel sudah kami kirimkan Selasa (4/11) siang. Sampel berupa sisa adonan, tepung terigu, serta muntahan dan urin penderita.
“Dari hasil pemeriksaan sampel itu bisa terlihat apakah ada mikroba atau zat-zat kimia mematikan. Namun sampai hari ini hasilnya belum keluar, paling tidak satu minggu lagi baru diketahui secara pasti,” ujarnya. (tom/ila/ong)