DWI AGUS/RADAR JOGJA
PRODUKTIF: Hasil seni karya para guru yang dipamerkan di ruang pamer PPPPTK Seni dan Budaya Jogjakarta, kemarin.

PPPPTK Seni dan Budaya Pamerkan Karya Para Guru

SLEMAN – Guru seni tidak hanya berkutat dalam bidang akademis. Meski berstatus sebagai akademisi, guru seni juga berkewajiban ber-karya seni. Hal itu diungkapkan Kepala PPPPTK Seni dan Budaya Jogjakarta Salamun dalam pameran bertajuk Rekreasi Guru Seni. Pameran yang digelar di ruang pamer PPPPTK Seni dan Budaya ini menyajikan puluhan karya. Pameran ini melibatkan guru seni tingkat SD, SMP, SMA dan SMK. Totalnya, ada 50 guru yang berpartisipasi dalam pameran yang ber-langsung hingga 7 November ini. “Meski berkutat dalam ruang kelas, namun sejatinya guru seni tetap harus produktif berkarya. Apa lagi bidang yang dianut, bersinggungan dengan olah praktik lapangan. Sehingga nantinya karya ini dapat menjadi inspirasi para siswanya,” kata Salamun (5/11).
Salamun menilai aktivitas para guru seni ini terbilang mumpuni. Terbukti dari 50 karya yang masuk memiliki ke-kuatan dari segi goresan maupun konsep. Tidak hanya hadir dengan karya lukis, pameran ini menyajikan karya patung, instalasi hingga desain fashion. Antusiasme para guru seni dalam meng-ikuti pameran ini tergolong tinggi. Saat pendaftaraan dibuka, ada 94 guru yang memasukkan karya mereka. Dalam proses seleksi dan kurasi, terpilihlah 50 karya yang sesuai dengan tema Festival Seni Internasional (FSI) ini.
“Secara kreatif para guru ini juga dapat merepresentasikan tema karya yang diusung. Ini bukti bahwa guru seni tidak hanya jago dalam teori di kelas. Juga dapat menjadi se-orang seniman dalam berkarya,” ungkapnya. Seorang kurator yang juga bertindak sebagai dewan juri, Kuss Indarto menga-takan, pameran ini menarik dan kreatif. Terlebih pelakunya adalah guru seni yang lebih berkecimpung di dunia pengajaran. Tapi pandangan ini dengan cepat terhapus begitu melihat karya yang disajikan.
Tapi dirinya juga memberikan kritikan dengan adanya beberapa ide yang belum kuat. Seperti karya milik Subandi Giyanto yang berjudul Hamamyu Hayuning Bawana. “Semangat keratif yang kuat, namun terkendala problem gagasan. Karya ini relatif bagus meski tingkat main-mainnya belum kuat. Wayang masih sesuai pakem klasik belum dimainkan. Namun itu sudah didukung kuat oleh kemampuan teknisnya,” kritiknya. (dwi/jko/ong)