HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
HARUS SEJAHTERA: Kesibukan porter di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Banyak karyawan di bandara ini dari masyarakat sekitar, termasuk para porter.

Dulu Rawa, Kini Jadi Gerbang Sumatera Barat

Landasan pacu yang panjang, pesawat datang dan pergi membawa penumpang sepuas hati, disambut gayung ribuan warga Nagari (Kecamatan) Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman yang hidup jauh lebih sejahtera dari awal mula. Itulah gambaran Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Apakah Kecamatan Temon, Kulonprogo, bisa akan seperti itu?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
SELAIN menjadi pintu gerbang Sumatera Barat, Kabupaten Padang Pariaman kini juga seolah menjadi pusat peradaban baru di tanah minang. BIM menggantikan Ban-dara Tabing yang dulunya berada di tengah Kota Padang Pariaman dan susah berkembang. Angkasa Pura (AP) II resmi mengoperasikan BIM sejak 22 Juli 2005.
Berada 24 kilometer dari pusat Kota Padang Pariaman dengan luas lahan 427 hektare, menjadikan BIM sebagai bandara interna-sional yang cukup mudah mendaratkan pesawat bertubuh besar seperti jenis Airbus dan Boeing. Bisa dikatakan BIM sudah dilahirkan tahun 1981 ditandi survei yang dilakukan AP II. Dasarnya yakni Bandara Tabing di tengah kota yang sudah sulit dikembangkan. DED diujudkan 1987, sempat terjadi revisi desain tahun 1996. Perjalanan yang panjang dalam kurun waktu 24 tahun menghabiskan masa kepemimpinan tiga gubernur Sumbar.
BIM kini memiliki panjang landasan pacu 2.750 meter dan lebar 45 meter. Bahkan sempat dilakukan penambahan landasan pacu 300 meter, sehingga total landasan 3,2 kilometer. Kini BIM sudah bisa didarati pe-sawat besar seperti boeing 737. 400 juga jenis Airbus 330. BIM kini sangat diminati masyarakat, bahkan warga daerah tetangga seperti dari Muko Muko Bengkulu datang ke BIM saat hendak keluar pulau. Semua itu menjadi warna kehidupan yang dinamis dipilih apik, AP II, pemkab dan waga nagari bergandeng tangan
Nama bandara ini juga dilam-bungkan untuk mengangkat etnis Minangkabau, dan men-jadi satu satunya bandara di Indonesia bahkan di dunia yang menggunakan nama etnis. Dikelola dengan benar, mana-jemen AP II juga cukup lihai dalam mengemas program CSR. Rangsum Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PKBL cukup menye-jukkan. Tentunnya menggunakan pisau analisa yang cukup tajam untuk membidani itu. Maka dikenallah CSR AP II menjadi penetralisasi warga saat diancam bencana alam, mem-berikan pelayanan kesehatan yang ramah saat dibutuhkan, menyediakan sarana umum yang sangat membantu aksesbilitas di darat, bahkan menjadi motor penggerak pembangunan sara-na ibadah.
Program CSR sebesar 30 persen yang disalurkan AP II, harus diakui sedikit banyak mampu membuat Padang Pariaman bergeliat. Tumbuh menjadi pu-sat konveksi dan home industri, menggugah gariah perdagangan, dan menyuburkan investasi. Bahkan hotel-hotel yang di-kuasai anak Nagari Ketaping bertebaran, mereka yang dulu mencari kayu bakar menjadi pengusaha jasa mobil rental dan taxi, mereka yang dulu bertani mampu membuka rumah makan. Luar biasa!
Tidak menjadi program yang asal jadi, program bina lingkungan yang dilakukan AP II juga men-jalar ke mana mana, sektor pen-didikan tak ketinggalan, beasiswa bertebaran, rehab sekolah, bantuan buku bertalu talu, pu-sat kesehatan lebih didekatkan dengan warga. “BIM 1980 baru rencana, 1984 mulai sosialiasi dan realisasi. Dimulai tahun 2001 dan bero-perasi 2005. Kami masih meru-gi Rp 20 miliar hingga Rp 30 miliar, tapi kami yakin dan op-timistis semua akan terbalas, dengan izin Allah dan demi ke-maslahatan umat,” ungkap Asep Supriyatna, GM Angkasa Pura II saat ditemui di bandara se-tempat.
AP II memprioritaskan warga Minangkabau dengan tujuan untuk menyentuh langsung pe-rekonomian masyarakat. Tahun 2006, bandara ini sudah dipercaya menjadi embarkasi pemberang-katan jamaah haji di Provinsi Sumatera Barat dan sekitarnya. Jamaah haji dari Bengkulu, dan Jambi, juga terbang dan pulang ke tanah suci Makkah dari sini. Asep menjelaskan, sebelum BIM dioperasikan tahun 2005, seperti yang disampaikan Wali Nagari Ketaping, Marajo Datuk Sampoerna, gangguan selalu ada. Bahkan tidak hanya pada saat proses pembebasan tanah, saat pengoperasian pun digan-jal dan jegalan terjadi di sana sini. Oknum yang minta ini dan itu.
“Tapi alhamdulillah kerjasama dengan anak nagari berjalan baik dan sublim, sebagian anak na-gari kita libatkan membantu pengoperasian bandara BIM. Memang tidak semua pekerjaan yang kami butuhkan bisa dipe-nuhi oleh anak nagari, tapi ada pekerjaan yang memungkinkan mereka,” jelasnya.
Mereka menjadi tenaga pem-bantu operator yang handal untuk pemenuhan pelayanan standar bandara internasional. Dari tahun ke tahun keterlibatan putra daerah atau anak nagari semakin banyak, kompetensi mereka di-upgrade untuk men-jangku standar mutu pelayanan. BIM menjadi bagian dalam men-drive perekonomian di Sumatera Barat, hampir seluruh aktivitas di level tertentu mem-butuhkan transportasi udara. Sementara anak nagari tidak hanya menjadi celaning servis, pelayanan kargo, porter, restoran. Mereka juga dengan leluasa membuka usaha di luar terminal sentral BIM, hampir semua usaha kita serahkan kepada anak nagari.
Belum lagi yang ada di trans-portasi darat, taksi lokal hampir semua dikelola putra daerah, bahkan di pekerjaan pemeliha-raan, 30 persen dilakukan putra daerah. Kontraktor melakukan perawatan, mulai dari pemba-batan rumput, memelihara sa-luran, taman, seluruhnya meli-batkan putra daerah. “Keberadaan bandara di suatu daerah yang baru harus diya-kini akan memberikan manfaat yang baik untuk warga di seputra-nya. Bahkan meluas hingga tingkat provinsi, pertumbuhan ekonomi menjadi mapan. BIM di Nagari Ketaping ini menjadi salah satu buktinya,” bebernya.
Terkait pembebasan lahan, memang benar ada perbedaan kasus untuk status tanah. Kalau tidak salah membaca berita, di Kulonprogo 40 persen merupa-kan aset PA Ground, sementara 60 sisanya milik warga.
Maka tentunya harus ada se-macam perundingan khusus, untuk tanah pakualam itu. Apa-kan mau di treatmen sama dengan di BIM atau ditangani khusus. “Namun yang terpenting, terle-pas dari tanah aset PA atau warga kita harus bisa meyakin-kan bahwa bisa dimanfaatkan untuk pengembangan bandara dan kesejahteraan rakyat. Bukan menjadi masalah yang tidak terselesaikan,” bebernya.
Jika ditarik benang merahnya, NYI A dengan BIM memiliki semangat yang sama, yakni ik-htiar yang dilakukan Pemkab Kulonprogo dan AP I harus pa-ripurna atau maksimal. “Ya usa ha yang maksimal jangan putus. Insya Allah Pemkab Ku-lonprogo dan AP I yang meng-inginkan menjadi kaya, tapi untuk kemaslhatan warga se-muanya,” katanya. Saksi hidup, Ul Triyanto, Yus-rizal, Ramli Azar, ketiga warga Talao Mundam, Nagari Ketaping, Batang Anai, Padang Pariaman ini telah meneguk madu BIM. Awalnya mereka menjadi pe-tani, nelayan dan pencari kayu bakar. Sejak bandara BIM dio-perasikan 2005 lalu ia menjadi porter. “Ada pendapatan yang lebih besar, rata-rata sehari saya mendapat Rp 100 ribu lebih,” terang Ramli.
Yusrizal menambahkan, ada 150 porter di BIM dan kebanya-kan warga dari Nagari Ketaping. “Kebanyakan mereka dulunya seperti saya. Cari ikan dan ber-tani, dan kami juga masih bisa melakukan itu jika ada waktu luang untuk tambah penghasi lan, karena kita kerja kan sift,” imbuhnya. (*/laz)