GUNTUR AGA/RADAR JOGJA
MENARIK PERHATIAN: Penampilan salah satu kontingen dari Jogjakarta, Tejo Badut, dalam karnaval budaya Selendang Sutera 2014 di kawasan Malioboro, Jogja, kemarin (9/11).

Multikultur Jadi Kekuatan Pariwisata

JOGJA – Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ terus melakukan kampanye Jogjakarta sebagai miniatur Indonesia. Bertajuk Selendang Sutera 2014, Disbud DIJ menggelar karnaval budaya. Karnaval yang di-gelar Minggu sore (9/11) kemarin ini menampilkan 30 kontingen budaya yang ada di Jogjakarta.
Karnaval sepanjang 2,5 kilometer ini diawali dari halaman Kepatihan DIJ menuju Pura Pa-kualaman. Kepala Disbud DIJ GBPH Yudhanin-grat menilai Jogjakarta kaya ragam budaya In-donesia
Kebudayaan daerah ini pun mampu berdampingan dengan budaya lokal asli Jogjakarta.”Indonesia pada kenyataannya sudah menjadi Indonesia mini sejak dulu. Tidak hanya datang, tapi membaur dan juga rukun. Wujud toleransi ini kuat dan wajib kita jaga,” katanya.Adik Sri Sultan Hamengku Bu-wono X ini menuturkan, raga mini dapat menjadi potensi. Selain wujud toleransi, multi-kultur ini dapat menjadi kekua-tan di sektor pariwisata dan budaya. Imbasnya tentu saja meningkatkan jumlah kunjung-an wisata budaya baik nasional maupun internasional.
Karnaval yang melibatkan ribuan peserta ini pun merupakan wujud apresiasi. Selain menampilkan kekayaan Indonesia di Jogjakarta, juga menampilkan budaya lokal. Gusti Yudha pun mengakui bahwa Jogjakarta memiliki banyak upa-cara adat dan tradisi.
“Karnaval ini juga sebagai wujud kerukunan. Tidak hanya tampil sebagai budaya yang mandiri, tapi ada pula wujud kolaborasi. Bahkan upacara adat di desa dan kota ada yang merupakan akul-turasi kebudayaan,” katanya.
Karnaval Budaya Selendang Sutera 2014 ini diawali dengan Bregada Kraton Ngayogyakarta di barisan terdepan. Berlanjut dengan penampilan Ikatan Pe-lajar dan Mahasiswa 34 pro-vinsi se-Indonesia yang ada di DIJ. Di barisan belakang ditutup Bregada Keprajuritan Kadipaten Pura Pakualaman.Format penyajian berupa arak-arakan berjalan kaki dengan menampilkan display gerak be-rirama di sepanjang jalan. Rute yang diambil sepanjang jalan Malioboro menuju Titik Nol Ki-lometer, lalu ke timur Jalan Pa-nembahan Senopati dan menu-ju Jalan Sultan Agung.
Sepanjang rute ini terlihat ri-buan warga menikmati pawai dari trotoar. Tak jarang pula be-berapa di antaranya mendekat untuk sekadar mengambil foto bersama. Pawai berakhir di Jalan Sultan Agung depan Pura Paku-laman. Masing-masing kontin-gen pun melakukan display penghormatan di panggung utama di titik akhir pawai.
Gubernur HB X diwakili Ke-pala Disperindagkop dan UKM DIJ Riyadi Ida Bagus Salyo Sub-ali menyambut baik dan apre-siasi tinggi pawai budaya ini. Gelar budaya ini, menurutnya, merupakan upaya memantabkan seni budaya di masyarakat.
“Negara majemuk yang memi-liki semboyan bhinneka tunggal ika untuk disematkan semangat-nya. Semboyan lahir sebagai refleksi dan jawaban atas kema-jemukan dan menjadi tiang penyangga bagi bangsa yang ko-koh. Karnaval ini mengajak kita untuk memahami nilai filosofi dan berharap dapat menciptakan keharmonisan,” kata HB X, dalam sambutan yang dibacakan Ri-yadi. (dwi/laz/ong)