AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
KRITISI PENELITIAN: Narasumber seminar nasional Pengembangan Aktivitas Penelitian saat berbicara di Auditorium Fakultas MIPA UNY, Sabtu (8/11).

Bukti Pengelolaan Penelitian Masih Sangat Buruk

JOGJA – Komitmen pergu-ruan tinggi (PT) ikut menemu-kan solusi dan inovasi baru dalam berbagai ilmu pengeta-huan dan masalah sosial, nam-paknya perlu diragukan. Seti-daknya ini tercermin dari mi-nimnya PT yang memiliki rencana induk penelitian (RIP). Berdasarkan data Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Ditlitabmas) Ditjen Dikti 2013 lalu, hanya 14 perguruan tinggi kelompok mandiri yang mendapatkan skor 200-500. Kemudian sebanyak 36 PT kelompok utama menda-patkan skor 130-199,9 dan sebanyak 79 PT kelompok ma-dya meraih skor 75-129,9.
“Sebanyak 772 PT kelompok binaan mendapat skor 0,1-74,9. Sisanya sebanyak 2.562 PT PTN/PTS di bawah Dikti tidak diten-tukan dalam kelompok apa pun karena tidak menyampaikan data kinerja penelitiannya,” ungkap Dr Handoko Santoso, dosen Universitas Muhamma-diyah Metro dalam seminar nasional bertema Pengembangan Aktivitas Penelitian dan Pem-berdayaan Penelitian melalui Manajemen Kegiatan Peneli-tian Biologi beserta Pembela-jarannya di Auditorium Fakul-tas MIPA UNY, Sabtu (8/11)
Menurut Handoko, dari data ter-sebut menunjukkan bahwa peng-elolaan penelitian di PT di Indone-sia masih sangat buruk. Karena itu, ia menyusulkan kepada Dikti agar berani menantang kepada PT untuk menandatangani komitmen membangkitkan penelitian di ling-kungan kampus masing-masing. “Jangan sampai PT dibiarkan begitu saja. PT perlu dibina untuk melakukan penelitian dan hasil penelitiannya dapat memberikan manfaat bagi ma-syarakat,” tambah Handoko.
Kepala Balai Konservasi Tum-buhan Kebun Raya Baturaden, Dinas Kehutanan Jawa Tengah Soegiharto, mengatakan lem-baganya siap diajak kerja sama oleh PT yang ingin melakukan penelitian di wilayah Jateng. Mengingat spesies tumbuhan yang hidup di hutan Indonesia sangat banyak, Soegiharto mem-persilakan kepada dosen dan mahasiswa UNY yang ingin melakukan penelitian di hutan di wilayah Jateng.
“Kami sangat senang bila ada dosen dan mahasiswa yang ingin melakukan penelitian dan ikut menjaga spesies yang ada di wilayah Jawa Tengah. Jangan sampai spesies yang ada di Indonesia hilang be-gitu saja, sehingga generasi bangsa ini nanti hanya men-dengar cerita tanpa mengeta-hui fisik tumbuhan yang pernah tumbuh di wilayah Jateng,” kata Handoko. (mar/laz/ong)